Showing posts with label sejarah. Show all posts

Sunday, March 13, 2016

Biografi Tgk H Usman Bin Tgk Ali (Abu Kuta Krueng)

No comments :
Biografi Tgk H Usman Bin Tgk Ali (Abu Kuta Krueng)
TGK H USMAN BIN TGK ALI Lahir di Kuta Krueng Pidie Jaya pada tanggal 31 Desember 1940 dengan nama lengkap Tgk H Usman bin Tgk Ali. Setelah menyelesaikan Sekolah Rakyat (SR) Tgk H Usman langsung menggeluti pengetahuan Islam di Dayah Ma’hadal Ulum Diniyyah Islamyyah (MUDI) Mesra Samalanga – Bireuen, semasa mengaji di Dayah MUDI Mesra Samalanga telah nampak terlihat kepribadian seorang ulama, mulai dari sifat, karakter hingga kemampuan menyerap berbagai ilmu pengetahuan dengan cepat.

Sebagai seorang murid, Tgk H Usman selalu menghormati gurunya, hingga ilmu yang beliau peroleh-pun mengandung keberkatan (bermanfaat), karena dalam keyakinan aneuk dayah memuliakan dan menghormati guru merupakan salah satu factor keberkatan pada ilmu. Dan hal ini dipraktekkan dalam keseharian Tgk H Usman, walhasil sepulang dari dayah MUDI Mesra Samalanga beliau mendirikan Dayah Darul Munawwar di Kuta Krueng, Bandar Dua yang dulunya tunduk ke kabupaten Pidie, namun sekarang masuk wilayah kabupaten Pidie Jaya setelah pemekaran pada tahun 2007 lalu.

Kehadiran Tgk H Usman yang akrab disapa Abu Kuta Krueng dalam kancah pendidikan di Aceh telah menoreh catatan sejarah Aceh sebagai bumi seribu dayah dan satu lagi bertambah lampu penerang di bumi Serambi Mekkah. Hari ini Abu Kuta dipandang sebagai seorang tokoh ulama karismatik Aceh yang selalu dihormati dan menjadi kebanggaan orang Aceh.

Abu Kuta Krueng : Umat Islam Jangan Terlalu Sibuk Dengan Urusan Dunia   

Ulama kharismatik Aceh, Tgk. H. Usman Kuta Krueng menghimbau umat Islam agar tidak terlalu menyibukkan diri dengan urusan duniawi sehingga melupakan urusan akhirat. 

“Umat Islam yang ada di seluruh penjuru dunia kini sedang menyambut datangnya bulan Ramadan, tujuan bulan Ramadan adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah, kalau kita terus disibukkan dengan urusan duniawi termasuk bekerja tanpa henti, maka tujuan ini akan gagal dicapai,” demikian diantara beberapa nasehat yang disampaikan Abu Kuta Krueng ketika menyampaikan khutbah Jumat pada pelaksanaan ibadah salat Jumat untuk yang pertama kalinya di Masjid Imum Syafi’i Desa Teupin Kupula, Kecamatan Jeunib, Kabupaten Bireuen, Jumat, (12/6/2015)
sumber : acehabad.blogspot.co.id

Friday, March 11, 2016

MASJID Raya Labui (PO TEUMEUREUHOM)

No comments :

MASJID Raya Labui terletak di Kabupaten Pidie merupakan salah satu masjid tua di Aceh yang menyimpan nilai sejarah. Salah satu peninggalan sejarah adalah mimbar dari kayu berukir berusia ratusan tahun hasil karya pengrajin Cina sekitar tahun 1612 M.

Masjid Raya Labui awalnya bernama Masjid Raya Po Teumeureuhom. Bangunan pertama terbuat dari kayu beratap rumbia. Kemudian dindingnya terbuat dari batu bercampur kapur. Waktu itu Po Teumeureuhom, SULTAN ISKANDAR MUDA (1607-1636) bersama masyarakat membangun masjid tersebut secara bergotong royong. Masyarakat bersedia berdiri sekitar 30 kilometer untuk mengangkut batu secara estafet, dari Kecamatan Muara Tiga ke Labui. Po Teumeureuhom sempat mendatangkan arsitek dari Cina untuk membangun masjid yang kemudian dilestarikan menjadi cagar budaya. Regram from @aldiphotoworks

Thursday, March 10, 2016

Kupi Khop khas aceh

No comments :
Kupi Khop khas aceh
Kupi Khop’, yaitu kopi yang disajikan dengan gelas terbalik (khop). Kopi unik Ini merupakan tradisi lama sajian minuman kopi Aceh. Kupi Khop merupakan minuman yang unik, cara meminumnya juga berbeda dengan minuman yang kita minum sehari-hari. Kupi Khop diminum dengan cara ditiup dan disedot menggunakan sedotan yang telah disediakan. Selain dari cara menikmati minumannya, pembuatan kopi ini juga menggunakan bubuk kopi jenis robusta yang ketika diaduk bubuknya tetap mengapung. Nama Kupi Khop sendiri diambil dari bahasa Aceh ‘Kupi’ yang berarti kopi dan ‘Khop’ yang berarti tutup. Kupi khop ini berasal dari Meulaboh, Aceh Barat. Sekarang kupi khop ini dapat dinikmati di berbagai tempat di Aceh, salah satunya kupi khop ini saya nikmati di puncak gunung Geurute, Aceh Jaya sambil menikmati pemandangan alam Aceh yang begitu mempesona. 📷 by @muhaj_ar

Saturday, February 27, 2016

Kenang 117 Tahun Gugurnya Teuku Umar, Pemeran Foto Digelar di Gedung PKK Meulaboh

No comments :

MEULABOH - Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Aceh Barat, selama empat hari mengadakan pameran foto di gedung PKK depan pendopo lama, Suak Indrapuri, Meulaboh.

Pameran foto rangkaian mengenang 117 tahun gugur pahlawan nasional, Teuku Umar menampil foto Teuku Umar dan foto-foto terbaik karya fotografer dibuka Sekda Aceh Barat, Bukhari MM, Sabtu (27/2/2016) .

Sumber : Serambi

Thursday, February 25, 2016

BELANDA TAK PERNAH NYAMAN MENGINJAK KAKINYA DI BUMI ACEH

No comments :
Peristiwa 11 September 1926; Perlawanan Teungku Peukan terhadap Belanda di Aceh
25 Februari,2016
Peristiwa 11 September 1926
Serangan fajar secaa sporadis dan dahsyat dilakukan oleh pasukan Teungku Peukan menjelang subuh bertepatan masuknya hari Jum’at tanggal 11 September 1926. Serangan dari pejuang pengikut Teungku Peukan pada Subuh itu membuat serdadu Belanda di dalam tangsi kucar-kacir. Sebagian marsose yang sedang tertidur pulas ditewaskan dengan serangan kelewang dan rencong pejuang Aceh Barat Daya. Sebagian lainnya terluka dan hanya tiga marsose yang selamat dalam serangan fajar itu.
Dikisahkan dalam serangan itu beberapa kali senapan marsose Belanda tidak dapat meletus ketika akan menembaki para pejuang di pihak Teungku Peukan. Para pejuang dari “Bumo Breueh Sigeupai” terus maju menggempur dan memporak-porandakan marsose dan isi tangsi Belanda. Serangan di pagi itu ke dalam tangsi Belanda membuat “banjir darah” di Blangpidie, baik di pihak pejuang maupun marsose. Sebagai wujud rasa syukur, Teungku Peukan kemudian mengumandangkan azan.
Saat mengumandangkan azan, seorang marsose Belanda melepaskan tembakan yang membuat Teungku Peukan “syahid” ke pangkuan “Bumo Persada”. Dalam situasi dan kondisi yang sangat genting, Teungku Muhammad Kasim (putra Teungku Peukan) menjadi emasional dan dengan serta-merta menyerang dengan semangat “trueng bila”. Ia meraih potongan pecahan kaca yang bertaburan di dalam tangsi untuk menghantam tubuh salah seoang marsose. Sebelum kaca mengenai tubuh lawan, hantaman peluru dari marsose lainnya menembusi tubuhnya yang membuat beliau ikut gugur di dalam serangan itu.
Teungku Peukan kemudian dimakamkan tidak jauh dari lokasi tertembak dan gugur, yaitu di sekitar Mesjid Jamik Blangpidie dekat tangsi Belanda. Beliau meninggal pada hari Jum’at tanggal 11 September 1926. Dalam serangan itu, bersama Teungku Peukan, gugur lima orang pejuang lainnya. Beberapa panglima dan pejuang yang selamat melarikan diri dan kembali bergerilya di hutan-hutan di daerah pedalaman Aceh Barat Daya dan Aceh Selatan, di antaranya Pang Pancuk dan Sidi Rajab. Sistem lini konsetrasi yang dilakukan Belanda semakin ketat, membuat para pejuang Aceh Barat Daya banyak yang gugur dan tertangkap. Mereka diinterniran ke Pulau Jawa, seperti Waki Ali dan Nyak Walad, sedangkan Said Umar “dibuang” ke Makassar Sulawesi Selatan.
Pada bulan Maret 1927, saat pasukan marsose melakukan sweeping ke markas gerilyawan di Gunong Sabi, mereka kembali disergap oleh pejuang Aceh Barat Daya. Dalam penyergapan itu, beberapa korban jatuh di pihak marsose Belanda. Teuku Nana sebagai uleebalang Manggeng yang dituduh menutup-nutupi laporan tentang aktivitas para gerilyawan kepana Belanda mengakibatkan ia dicopot dari jabatan sebagai uleebalang Manggeng. Setelah itu uleebalang Manggeng dipegang oleh beberapa pengganti, di antaranya Cut Mamat. Baru pada 1933 Belanda mengangkat Teuku Raja Iskandar menjadi uleebalang di Manggeng.



Kisah Abuya Muda Waly Berjumpa Dengan Jin Perempuan

No comments :
Kisah Abuya Muda Waly Berjumpa Dengan Jin Perempuan
Setiap Hamba Allah yang dimuliakan oleh-Nya pastilah ada kelebihan yang dianugrahkan, baik karomah yang ada pada dirinya sendiri ataupun karamah yang bisa diberikan kepada orang lain. Mereka yang dimaksudkan disini adalah Para Ulama dan Wali-Wali Allah yang senantiasa terus istiqamah dalam ilmu dan dzikirnya. Maka demikian jugalah yang terjadi pada Seorang Ulama Besar Aceh, bernama Syeikh Muda Waly Al-Khalidy

Beliau dikenal oleh masyarakat sebagai Ulama Kondang, yang selalu istiqamah setiap dalam dakwahnya untuk mengembangkan ajaran Rasulullah SAW. tidak hanya itu, Abuya juga termasuk tokoh Nasional, karena berkat beliaulah juga Soekarno menjadi seorang Presiden. 

Tidak heran lagi, seorang Ulama pastilah ada sesuatu yang lebih diberikan Oleh Allah SWT. Jika kita membaca buku ataupun mendengar dari orang tua masa dahulu, abuya memiliki beberapa kelebihan pada diri beliau, salah satu dari sekian banyak itu adalah JIN atau khadam JIN yang menjadi pengikut beliau. kisah ini didapati dari buku karya Tgk. Musliadi S.Pd.i : "“Abuya Syeikh Muda Waly Al-Khalidy – Syeikhul Islam Aceh Tokoh pendidikan dan Ulama ‘Arif Billah”. 


Berikut kutipan kisah tersebut : 

Konon diceritakan lokasi tempat berdirinya Masjid Syaikhuna ini dulunya merupakan tempat bersemayam “Putroe Baren yaitu sebangsa jin sebagaimana sudah di jelaskan pada bahagian kedua didalam buku kami. Hal ini terbukti dengan suatu kejadian pada saat Abuya sedang mengajarkan murid-murid beliau di bulan ramadhan, datanglah seorang wanita dengan postur badan yang tinggi dan berparas cantik, dengan membawa Sua (obor dari daun kelapa). Wanita ini membakar obornya pada salah satu lentera disana. Anehnya kalau biasanya orang-orang membuat obornya dari daun kelapa kering, tapi wanita ini malah membuatnya daun kelapa yang masih basah, sehingga lentera itu padam dibuanya. Yang lebih aneh lagi adalah kejadian ini bukan satu kali tapi justru terjadi beberapa kali dalam waktu yang sama. Setelah ia membakar obornya pada lentera itu, wanita ini pun pergi, lalu Abuya berkata : 

“Siapa mau mematuhi kemana perginya wanita itu ?”, 

salah seorang murid beliau memberanikan diri mengikuti kemana arah hilangnya wanita tersebut, anehnya tidak ditemukan apa-apa melainkan hanya seberkas sobekan kain busuk atau kain yang sudah usang saja. Akhirnya murid beliau tahu bahwa wanita itu adalah “Putro Baren”. 

Monday, February 22, 2016

Tiphan makanan khas aceh

No comments :

Ga ada yang lebih menggoda dari pada melihat makanan kesukaan beserak gini di depan mata.

Dulu kalau mau makan timphan, musti berburu ke warung kopi tertentu dan harus pagi. itu juga kalau ada. Atau nguber seminar dan kueh kotak, atau  order. males banget order kalo cuma 5 bijik kan?.
.
Remember cafe ini emang hana lawan lah. Dulu kita pernah bahas sate padang enak di sini. Ingat kan? yg depan Grapari Te*lko*mse*l. Timphan pun ada disini. Timphan asoe kaya dan timphan boh ubi asoe ue. yang asoe ue jangan banyak2 makan ya, kata mamak kami meuglang nanti, atau kremi-an (Semoga ngerti).
.
Yang suka timphan, semoga rejekinya banyak kek timphan beserak ini.

Ayok ceh hashtag #BNACulinary untuk panduan kuliner di Banda Aceh. dan untuk pelaku usaha kuliner, hubungi kami via line jika pengen direview juga usaha kulinernya.

Sumber ig #kotaBandaAceh

Wednesday, February 17, 2016

kisah abu daud beureueh

No comments :
kisah abu daud beureueh
Kisah abu daud beureueh. Rumah itu besar, juga megah. Letaknya di sebuah jalan di kawasan Tomang, Jakarta Barat. Pagarnya putih dengan gerbang besi yang selalu mengatup. Halamannya luas dengan bunga yang bermekar-mekar. Di ruang tengah ada televisi besar, tapi jarang dinyalakan, ditemani sebuah radio transistor. Seperti sebuah kuburan besar, rumah itu senyap siang malam.

Penghuninya adalah seorang pria yang sudah uzur yang kesepian. Dialah Teungku Daud Beureueh, tokoh pergerakan kemerdekaan Aceh yang namanya melegenda itu. Abu Daud, begitu ia biasa disapa, “disimpan” di bangunan itu dari tahun 1978 hingga 1982. Tadinya Daud adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia.

Pernah pula ia menjadi Gubernur Aceh. Tapi ia lalu merasa disepelekan Jakarta, sewaktu daerah kelahirannya itu dilebur dengan Sumatera Utara pada 1953, dalam periode Perdana Menteri Mohammad Natsir. Penggabungan itu secara tak sopan memecat sang Teungku dari jabatannya-sesuatu yang bukan saja amat menghina Daud Beureueh, tapi juga melukai hati kebanyakan orang Aceh.

Dan luka kian menganga ketika rakyat menganggap para petinggi Tentara Nasional Indonesia yang bertugas di Aceh saat itu berhaluan kekiri-kirian. Republik pun kian terasa jauh dari Serambi Mekah.

Bagi Daud Beureueh, segala kekecewaan itu hanya punya satu jalan keluar: Merdeka. Karena itu, setelah tak lagi menjadi gubernur, dari Banda Aceh ia balik ke Kampung Usi, Kecamatan Beureunen, sekitar 15 kilometer dari Sigli, ibu kota Kabupaten Pidie.

Sebentar saja ia telah menghimpun kekuatan, lalu memimpin perlawanan gerilya melawan serdadu Indonesia. Sembilan tahun ia berjuang habis-habisan di hutan, tapi “jalan keluar” itu tak kunjung dapat dijejakinya. Lelah berperang, pada 1962 ia lalu menerima tawaran damai pemerintah Indonesia, dan turun gunung pada tahun itu juga.

Sebagai imbalan, Jakarta berjanji memberlakukan syariat Islam di Aceh. Dari gunung ia kembali ke kampung, dan menetap di sebuah bilik di samping masjid di desanya. Menjadi imam di situ, pengaruh Daud Beureueh kian dalam merasuk ke hati rakyat.

Profesor Nazaruddin Sjamsuddin, pakar politik yang pernah menulis buku Pemberontakan Kaum Republik: Kasus Darul Islam, punya cerita bagaimana rakyat amat menghormati figur karismatis itu.

Pada 7 Juli 1973, Nazaruddin mewawancarai Daud Beureueh untuk kepentingan studinya. Sedang asyik-asyiknya mereka berbincang, seorang petani lewat naik sepeda. Dia baru pulang dari kebun. Ia mampir sebentar, hanya untuk mencium tangan sang Teungku, lalu memberikan enam biji ketimun yang baru dipetiknya.

Hampir tiap hari Nazaruddin melihat pemandangan itu. Ada saja warga yang datang membawa makanan dan buah-buahan ke rumah itu. Tapi berbagai pendekatan dan pemberian dari Jakarta selalu ditampiknya.

Kesepakatan damai tak kunjung melumerkan kekerasan hatinya terhadap pemerintah pusat. Abu Daud kecewa. Janji tentang syariat Islam ternyata tak pernah dipenuhi. Iming-iming itu baru terealisasi 43 tahun kemudian, melalui Undang-Undang Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), yang disahkan pada 2002 silam, 16 tahun setelah Daud Beureueh wafat.

Kekecewaan itulah yang lalu diutarakannya berulang-ulang dalam setiap ceramahnya di masjid-masjid di Aceh maupun Medan.

Ahmad Farhan Hamid, putra Abdul Hamid, teman seperjuangan Daud Beureueh, punya kisah menarik soal ini. Tahun 1976, saat menjadi mahasiswa di Fakultas MIPA Universitas Sumatera Utara, Farhan pernah mengundang Daud Beureueh berceramah di kampus itu. Semula cuma diminta memberi khotbah agama, eh, Abu Daud malah masuk jauh ke wilayah politik.

“Dia juga memaki-maki pemerintah,” kata Farhan.

Memang, dalam setiap ceramahnya, Abu Daud tak henti mengkritik kebijakan pemerintah. Ia merasa pembangunan di Aceh tak pernah bisa melayani kebutuhan masyarakat. Ia menjadi saksi betapa di tanah mereka sendiri, orang Aceh cuma jadi penonton ketika Orde Baru membangun berbagai industri besar di sana.
Pada tahun 1970-an, misalnya, di Aceh Utara didirikan pabrik gas Arun. Tapi mesin industri yang menderu cepat itu hanya membuat rakyat Aceh kian tertinggal. Tak pelak, jurang itu melahirkan kembali perlawanan baru terhadap Jakarta di bawah pimpinan Teungku Muhammad Hasan Tiro.

Hasan Tiro, paham betul bahwa restu Daud Beureueh amatlah penting untuk menopang gerakannya. Itu sebabnya, sekembali dari Amerika Serikat, dua kali ia bertamu ke rumah Abu Daud untuk meminta sokongan.

Menurut Nazaruddin Sjamsuddin, sebagaimana pernah dituturkan langsung Daud Beureueh kepadanya, Hasan Tiro menemui sang Teungku pada akhir 1975, di rumahnya di Beureunuen, Aceh.

Dalam pertemuan itu Hasan Tiro penuh semangat menjelaskan isi dan strategi perjuangannya. Tapi Daud tak peduli dengan segala siasat itu, Ia malah bertanya.

“Apa dasarmu membentuk Aceh merdeka?” Hasan tersentak mendengar pertanyaan itu. Belum lagi dijawab, Daud Beureueh sudah menukas sembari menatap tajam.

“Kalau dasarnya Islam, silakan. Saya mendukung.”

Setelah terdiam sejenak, Hasan Tiro menjawab, “Untuk kesejahteraan masyarakat Aceh. Selama bergabung dengan Republik, Aceh tak mungkin makmur. Jadi, harus berdiri sendiri.”

Bukannya memuji, Daud Beureueh malah geleng-geleng kepala dan menarik napas panjang.

“Apa dasarmu sebenarnya?” ia kembali bertanya penuh selidik. Kembali, Hasan Tiro tercenung. “Aceh, kata Daud, butuh menjadi Islam, bukan merdeka.”

“Apa nanti pertanggungjawaban kita kepada Allah kalau dasarnya bukan Islam,” kata Nazaruddin mengutip Daud.

Hasan Tiro tak patah arang. Ia terus meyakinkan Daud Beureueh bahwa orang Aceh memang memerlukan kemerdekaan. Setelah sejam mereka bicara, akhirnya Daud mengangguk memberi restu. Hasan Tiro langsung bergerak cepat.

Kemerdekaan Aceh diproklamasikan pada 4 Desember 1976. Jakarta berang dan segera mengirim pasukan. Dalam sekejap pasukan Hasan Tiro terdesak, lalu bergerilya di gunung dan hutan. Namun para petinggi Republik paham betul, roh perlawanan Aceh yang sesungguhnya ada dalam diri Daud Beureueh.

Keputusan pun diambil. Legenda hidup itu harus diceraikan dari gemuruh pemberontakan Hasan Tiro. Sebuah tim khusus lalu dikirim ke Aceh untuk membawa Daud Beureueh ke Jakarta, pada 1 Mei 1978.

Dipimpin oleh Sjafrie Sjamsoeddin-Kepala Dinas Penerangan TNI-para utusan tiba di kediaman Abu Daud tak lama seusai salat subuh.

Dikisahkan Nur Ibrahimy, menantu Daud Beureueh, tim Sjafrie meminta kesediaan sang Teungku untuk ikut bersama mereka ke Jakarta.

“Kami diperintahkan membawa Abu Daud ke Jakarta untuk menjadi saksi di Pengadilan Negeri Surabaya dalam perkara Haji Ismail yang dituding terlibat aksi Komando Jihad,” kata salah seorang anggota rombongan itu.

Peristiwa ini disaksikan langsung Teungku Nya’Aisah, istri ketiga Daud Beureueh. Karena sudah tua, sakit-sakitan pula, Daud Beureueh berkeberatan dibawa ke ibu kota Republik.

Dengan santun ia menjawab, “Maaf, bukannya tidak bersedia, saya ini sudah uzur. Saya mau bersaksi di sini saja.” Tapi tim Sjafrie berkeras.

Masih menurut Nur Ibrahimy, mereka lalu memegangi kaki dan tangan Daud Beureueh. Salah satunya sigap menyuntikkan obat bius. Tapi, karena sang Teungku keras memberontak, jarum suntik pun patah.

“Darah berceceran dan membasahi baju Abu Daud,” kata Nur.

Daud Beureueh yang sudah terkulai lemas lalu dilarikan dengan jip menuju helikopter yang sudah disiagakan. Ia pun dibawa ke Medan, lalu ke Jakarta.

Menurut Nur Ibrahimy, alasan menjadi saksi dalam perkara Komando Jihad itu cuma dalih untuk membawa paksa Abu Daud keluar dari tanah Aceh. Sjafrie Sjamsoeddin mengakui memang dialah yang memimpin tim untuk “mengambil” Daud Beureueh.

“Ya, kami yang menjemput beliau,” ujarnya. Tapi, menurut versi Sjafrie, ketika itu Abu Daud tak sempat melawan, juga tak ada kekerasan berarti, karena obat bius yang disuntikkan cepat bekerja.

Jenderal bekas Panglima Kodam Jaya itu mengungkapkan penjemputan pemimpin karismatik Aceh ini memang dilandasi kekhawatiran bahwa Daud Beureueh akan kembali naik gunung menyokong Gerakan Aceh Merdeka (GAM), yang sedang sengit-sengitnya digelorakan Hasan Tiro.

Saat itu perlawanan gerilya Hasan Tiro memang telah merasuki sebagian rakyat Aceh. Dari hutan, mereka gencar menyerang sejumlah fasilitas pemerintah dan perusahaan asing yang beroperasi di Aceh.

Pada awal 1978, misalnya, pasukan Tiro bahkan berhasil menerobos masuk ke pabrik LNG Arun di Aceh Utara. Serangan itu menewaskan seorang pekerja warga Amerika. Namun, di mata Nur Ibrahimy, ketakutan pemerintah pusat itu kelewat berlebihan.

Menurut dia, Abu Daud tak pernah sepenuhnya menyetujui gerakan kemerdekaan versi Hasan Tiro itu. Sebabnya, “GAM ini bersifat sekuler dan meski kurang Islami.”

Di Jakarta, mulanya Daud Beureueh tinggal di rumah menantunya, Muhammadiyah Haji, di Jalan Tomang, Jakarta Barat. Tapi tak berapa lama kemudian pemerintah lalu mengontrak sebuah rumah, persis di samping kediaman sang menantu. Bangunannya besar, megah, tapi sepi. Di situlah kemudian Abu Daud harus menetap seorang diri. Keperluan ia makan diurus anak dan menantunya.

“Tiap hari saya dan istri bawa makanan ke rumahnya,” kata Nur mengenang. Opor ayam dan ilieh alias belut goreng ala Aceh adalah makanan kesukaan Teungku Daud.

Untunglah, masih ada yang menghibur hatinya. Daud Beureueh selalu berseri-seri saat orang Aceh di Jakarta datang mengunjunginya. Atau juga kala ia berceramah di masjid dan menghadiri acara diskusi, meski dalam lingkup yang sangat terbatas. Di Jakarta, ruang gerak Daud Beureueh jelas tak lagi leluasa. Aparat keamanan terus mengintainya. Pemerintah cemas, siapa tahu di antara tetamu itu menyusup seorang gerilyawan Aceh.

Menurut Nur Ibrahimy, aparat intel, baik dari kepolisian maupun militer, saban hari mengawasi rumah kontrakan di Tomang itu, juga ketat menguntit ke mana pun Daud Beureueh melangkah. Karena itulah, Abu Daud sendiri menyebut kediaman megahnya di Tomang itu sebagai “sangkar emas pemerintah Indonesia”.

Dikungkung begitu, lama-kelamaan tergerogoti juga kesehatan Daud Beureueh. Beberapa kali ia jatuh sakit, dirongrong diabetes dan paru-paru basah. Berkali-kali ia minta pulang ke Aceh. Tapi baru pada 1982, saat kondisi kesehatannya terus merosot, pemerintah mengabulkannya.

Di Aceh, ia kembali menempati bilik di samping masjid di kampung kelahirannya. Tapi sakitnya kian parah. Tahun 1985, ia terjatuh dari ranjang. Engsel pinggulnya cedera berat, dan ia tak sanggup lagi berdiri. Walau begitu, semangatnya tak pernah pudar.

Dalam keadaan selalu terbaring di tempat tidur ia tetap menerima tamu dari berbagai kalangan: pejabat pemerintah, mahasiswa yang sedang menyusun skripsi, atau petani yang sekadar ingin mencium tangannya.

Sikap kritisnya terhadap pemerintah pusat pun tak lumer. Berkali-kali dia mengirim surat ke Presiden Soeharto, mengingatkan kian merebaknya kemerosotan moral di Serambi Mekah. Ia baru menyerah ketika ajal datang menjemput.

Rabu, 10 Juni 1987, Abu Daud menutup mata, dalam usia 89 tahun. Dari Jakarta, Presiden Soeharto mengirim karangan bunga dan kawat khusus duka cita. Jasad Teungku Daud Beureueh, bersama segenap impiannya tentang masa depan Aceh, dimakamkan di bawah pohon mangga di pekarangan Masjid Baitul A’la lil Mujahidin di Beureunuen, sebagaimana yang ia minta. (atjehcyber/tempo 2003/lasdipo)

Tuesday, February 9, 2016

Tari Likok Pulo 

No comments :

#fotoaceh by @icandmans
・・・
Tari Likok Pulo adalah sebuah tarian tradisional yang berasal dariAceh, Indonesia. "Likok" berarti gerak tari, sementara "Pulo" berarti pulau. Pulo di sini merujuk pada sebuah pulau kecil di ujung utara Pulau Sumatera yang juga disebut Pulau Breuh, atau Pulau Beras.

Tarian ini lahir sekitar tahun 1849, diciptakan oleh seorang ulama tua berasal dari Arab yang hanyut di laut dan terdampar di Pulo Aceh. Tarian dimainkan dengan posisi duduk bersimpuh, berbanjar, atau bahu membahu.

Seorang pemain utama yang disebut cèh berada di tengah-tengah pemain. Dua orang penabuh rapa'i berada di belakang atau sisi kiri dan kanan pemain. Sedangkan gerak tari hanya memfungsikan anggota tubuh bagian atas, badan,tangan, dan kepala.

#amazingaceh

Wednesday, February 3, 2016

Teuku Nana, Cut Nyak Dhien, dan Pang laot.

No comments :


foto ini setelah setelah penangkapannya . Cut Nyak Dhien (1848-1908) adalah istri Teuku Umar ( 1840-1899 ) . Dia melanjutkan setelah kematiannya meneruskan perjuangan melawan Belanda di Aceh , ditangkap pada tahun 1905 dan meninggal di pengasingan di Sumedang.
Part, 1.

SUMEDANG - Cut Nyak Dien adalah salah satu pahlawan Indonesia yang diasingkan oleh tentara Belanda. Cut Nyak Dien dibuang ke Sumedang karena dianggap berpotensi membuat ancaman.
Tanpa fisik yang sempurna, Cut Nyak Dien akhirnya diasuh dan dirawat oleh keluarga K.H Sanusi yang merupakan ulama Masjid Agung Sumedang. Dia pun tinggal di rumah K.H Sanusi yang berada tidak jauh dari makamnya.
Rumah berukuran 12 x 14 meter itu tampak sepi dari pengunjung. Rumah tersebut merupakan saksi sejarah kisah pahlawan wanita Indonesia, Cut Nyak Dien saat melewati hari – harinya sebagai orang yang diasingkan oleh tentara Belanda.
Di rumah tersebut, ada sebuah ruangan berukuran 3 x 5 meter yang menjadi kamar Cut Nyak Dien. Di kamar tersebut terdapat ranjang berukuran 2 x 2 meter. Selain itu, ada juga mesin jahit di dalam rumah tersebut. Menurut pengakuan beberapa orang yang berada di sana, konon mesin jahit tersebut suka berjalan sendiri. “Katanya sih mesin jahitnya suka berjalan atau goyang – goyang sendiri, seperti ada orang yang sedang menjahit,” kata Dwi salah seorang yang pernah mengunjungi rumah K.H Sanusi yang juga merupakan rumah tempat Cut Nyak Dien dirawat.
Rumah itu berbentuk seperti rumah panggung. Di dalamnya sudah tidak banyak barang hanya benda – benda peninggalan yang dipakai oleh Cut Nyak Dien. Menurut Dadang, anak cucu keturunan K.H Sanusi benda – benda tersebut sengaja dipindahkan.
“Benda – benda yang lainnya masih digunakan oleh keluarga sehingga ada yang dipindahkan. Kalau yang ada di rumah hanya benda yang digunakan oleh Cut Nyak Dien saja,” kata Dadang.