Showing posts with label aceh pidie. Show all posts
Friday, March 11, 2016
MASJID Raya Labui (PO TEUMEUREUHOM)
MASJID Raya Labui terletak di Kabupaten Pidie merupakan salah satu masjid tua di Aceh yang menyimpan nilai sejarah. Salah satu peninggalan sejarah adalah mimbar dari kayu berukir berusia ratusan tahun hasil karya pengrajin Cina sekitar tahun 1612 M.
Masjid Raya Labui awalnya bernama Masjid Raya Po Teumeureuhom. Bangunan pertama terbuat dari kayu beratap rumbia. Kemudian dindingnya terbuat dari batu bercampur kapur. Waktu itu Po Teumeureuhom, SULTAN ISKANDAR MUDA (1607-1636) bersama masyarakat membangun masjid tersebut secara bergotong royong. Masyarakat bersedia berdiri sekitar 30 kilometer untuk mengangkut batu secara estafet, dari Kecamatan Muara Tiga ke Labui. Po Teumeureuhom sempat mendatangkan arsitek dari Cina untuk membangun masjid yang kemudian dilestarikan menjadi cagar budaya. Regram from @aldiphotoworks
Thursday, March 10, 2016
Bus Sempati Star Dilempar di Pidie, 7 Pelajar Ditangkap
![]() |
| Bus Sempati Star Dilempar di Pidie, 7 Pelajar Ditangkap |
Sunday, February 28, 2016
Apakah Benar roket ditemukan di aceh?
![]() |
| Apakah Benar roket ditemukan di aceh? |
SIGLI - Sebuah benda diduga roket rakitan ditemukan seorang tukang bangunan di semak- semakGampông Cot Rheng, Pidie, tepatnya di belakang kantor Diklat, Sabtu, 27 Februari 2016, sekitar pukul 09.00 WIB. Saat ditemukan, roket lengkap pemicunya itu diletakkan di atas tiang penyangga.
Kini barang itu diamankan di Polres Pidie untuk selanjutnya akan diserahkan kepada tim Penjinak Bahan Peledak (Jihandak) Brimob Polda Aceh.
Kapolres Pidie AKBP Muhajir S.I.K., M.H., melalui Kasat Reskrim AKP. P. Harahap kepadaportalsatu.com, Sabtu, 27 Februari 2016, mengatakan, benda mirip roket rakitan itu pertama kali dilihat oleh seorang tukang bangunan, Syahril Lubis, 47 tahun, warga Gampông Lhok Keutapang, Kecamatan Pidie.
“Dia pertama melihat dan langsung menelepon anggota Polsek Pidie,” kata Harahap.
Personel Polsek Pidie dipimpin Kapolsek Iptu Khairil Ansar langsung bergerak ke lokasi untuk mengevakuasi roket itu agar tidak membahayakan warga setempat. “Sekarang barang itu sudah kita amankan di Polres untuk diserahkan ke tim penjinak,” imbuh Harahap yang mengaku pihaknya belum dapat memastikan apakah bahan peledak itu masih aktif atau tidak.
Menurut warga setempat, benda itu sudah berada di sana seminggu terakhir. Namun, warga tidak curiga bahwa barang itu bom. Warga mengira besi itu merupakan rongsokan sepeda yang dibuang pemiliknya. “Baru hari ini ketika Syahril melihat benda itu, baru heboh bahwa benda itu roket,” terang seorang warga.
Kasat Reskrim Harahap memperkirakan, roket itu merupakan sisa konflik yang selama ini masih disimpan warga secara ilegal.[] (*sar)
sumber : http://portalsatu.com/
Saturday, February 27, 2016
Saling Tuduh Miliki Ilmu Santet, Dua Warga Gampong Gajah Disumpah dengan Quran Abu Chiek Di Pasie
SIGLI - Dua warga Gampong Tuha Gajah, Kecamatan Mutiara Timur, Pidie, masing-masing Nurhayati binti Abdullah (60) dan Anzis A Gani (67), Jumat (26/2/2016) petang disumpah di komplek lokasi khalud ulama besar Aceh, Syeih Abdussalim bin Burhanuddin atau lebih kerap disebut Tgk Chiek Di Pasie, Gampong Waido, Kecamatan Peukan Baro, Pidie.
Penyumpahan kedua warga Gampong Tuha Gajah tersebut karena perselisihan keduanya sejak satu tahun terakhir. Keduanya saling tuduh memiliki ilmu hitam alias santet.
Isu itu mencuat setelah sejumlah anak gadis di gampong itu kerasukan sakit tanpa sadar mencekik leher mereka sendiri serta didera penyakit sesak.
Prosesi sumpah itu, dihadiri oleh ratusan warga baik dari Gampong Tuha Gajah serta masyarakat Gampong Waido, Kecamatan Peukan Baro.
Kedua warga yang berselisih itu dihadapkan di hadapan Quran Seurembeek Manuskrip (tulisan tangan) ulama besar Islam Aceh, Tgk Abdussalim bin Burhanuddin atau lebih kerap disebut Abu Chiek Di Pasie.
Ikrar sumpah langsung dipimpin oleh Tgk H Said Muslim Al-Bahsin selaku pemangku kekuasaan keturunan dan penjaga warisan pusaka dari pada Abu Chiek Di Pasie.
Sumber : Serambi
Photo : Ilustrasi
Wednesday, February 17, 2016
kisah abu daud beureueh
![]() |
| kisah abu daud beureueh |
Kisah abu daud beureueh. Rumah itu besar, juga megah. Letaknya di sebuah jalan di kawasan Tomang, Jakarta Barat. Pagarnya putih dengan gerbang besi yang selalu mengatup. Halamannya luas dengan bunga yang bermekar-mekar. Di ruang tengah ada televisi besar, tapi jarang dinyalakan, ditemani sebuah radio transistor. Seperti sebuah kuburan besar, rumah itu senyap siang malam.
Penghuninya adalah seorang pria yang sudah uzur yang kesepian. Dialah Teungku Daud Beureueh, tokoh pergerakan kemerdekaan Aceh yang namanya melegenda itu. Abu Daud, begitu ia biasa disapa, “disimpan” di bangunan itu dari tahun 1978 hingga 1982. Tadinya Daud adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia.
Pernah pula ia menjadi Gubernur Aceh. Tapi ia lalu merasa disepelekan Jakarta, sewaktu daerah kelahirannya itu dilebur dengan Sumatera Utara pada 1953, dalam periode Perdana Menteri Mohammad Natsir. Penggabungan itu secara tak sopan memecat sang Teungku dari jabatannya-sesuatu yang bukan saja amat menghina Daud Beureueh, tapi juga melukai hati kebanyakan orang Aceh.
Dan luka kian menganga ketika rakyat menganggap para petinggi Tentara Nasional Indonesia yang bertugas di Aceh saat itu berhaluan kekiri-kirian. Republik pun kian terasa jauh dari Serambi Mekah.
Bagi Daud Beureueh, segala kekecewaan itu hanya punya satu jalan keluar: Merdeka. Karena itu, setelah tak lagi menjadi gubernur, dari Banda Aceh ia balik ke Kampung Usi, Kecamatan Beureunen, sekitar 15 kilometer dari Sigli, ibu kota Kabupaten Pidie.
Sebentar saja ia telah menghimpun kekuatan, lalu memimpin perlawanan gerilya melawan serdadu Indonesia. Sembilan tahun ia berjuang habis-habisan di hutan, tapi “jalan keluar” itu tak kunjung dapat dijejakinya. Lelah berperang, pada 1962 ia lalu menerima tawaran damai pemerintah Indonesia, dan turun gunung pada tahun itu juga.
Sebagai imbalan, Jakarta berjanji memberlakukan syariat Islam di Aceh. Dari gunung ia kembali ke kampung, dan menetap di sebuah bilik di samping masjid di desanya. Menjadi imam di situ, pengaruh Daud Beureueh kian dalam merasuk ke hati rakyat.
Profesor Nazaruddin Sjamsuddin, pakar politik yang pernah menulis buku Pemberontakan Kaum Republik: Kasus Darul Islam, punya cerita bagaimana rakyat amat menghormati figur karismatis itu.
Penghuninya adalah seorang pria yang sudah uzur yang kesepian. Dialah Teungku Daud Beureueh, tokoh pergerakan kemerdekaan Aceh yang namanya melegenda itu. Abu Daud, begitu ia biasa disapa, “disimpan” di bangunan itu dari tahun 1978 hingga 1982. Tadinya Daud adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia.
Pernah pula ia menjadi Gubernur Aceh. Tapi ia lalu merasa disepelekan Jakarta, sewaktu daerah kelahirannya itu dilebur dengan Sumatera Utara pada 1953, dalam periode Perdana Menteri Mohammad Natsir. Penggabungan itu secara tak sopan memecat sang Teungku dari jabatannya-sesuatu yang bukan saja amat menghina Daud Beureueh, tapi juga melukai hati kebanyakan orang Aceh.
Dan luka kian menganga ketika rakyat menganggap para petinggi Tentara Nasional Indonesia yang bertugas di Aceh saat itu berhaluan kekiri-kirian. Republik pun kian terasa jauh dari Serambi Mekah.
Bagi Daud Beureueh, segala kekecewaan itu hanya punya satu jalan keluar: Merdeka. Karena itu, setelah tak lagi menjadi gubernur, dari Banda Aceh ia balik ke Kampung Usi, Kecamatan Beureunen, sekitar 15 kilometer dari Sigli, ibu kota Kabupaten Pidie.
Sebentar saja ia telah menghimpun kekuatan, lalu memimpin perlawanan gerilya melawan serdadu Indonesia. Sembilan tahun ia berjuang habis-habisan di hutan, tapi “jalan keluar” itu tak kunjung dapat dijejakinya. Lelah berperang, pada 1962 ia lalu menerima tawaran damai pemerintah Indonesia, dan turun gunung pada tahun itu juga.
Sebagai imbalan, Jakarta berjanji memberlakukan syariat Islam di Aceh. Dari gunung ia kembali ke kampung, dan menetap di sebuah bilik di samping masjid di desanya. Menjadi imam di situ, pengaruh Daud Beureueh kian dalam merasuk ke hati rakyat.
Profesor Nazaruddin Sjamsuddin, pakar politik yang pernah menulis buku Pemberontakan Kaum Republik: Kasus Darul Islam, punya cerita bagaimana rakyat amat menghormati figur karismatis itu.
Pada 7 Juli 1973, Nazaruddin mewawancarai Daud Beureueh untuk kepentingan studinya. Sedang asyik-asyiknya mereka berbincang, seorang petani lewat naik sepeda. Dia baru pulang dari kebun. Ia mampir sebentar, hanya untuk mencium tangan sang Teungku, lalu memberikan enam biji ketimun yang baru dipetiknya.
Hampir tiap hari Nazaruddin melihat pemandangan itu. Ada saja warga yang datang membawa makanan dan buah-buahan ke rumah itu. Tapi berbagai pendekatan dan pemberian dari Jakarta selalu ditampiknya.
Kesepakatan damai tak kunjung melumerkan kekerasan hatinya terhadap pemerintah pusat. Abu Daud kecewa. Janji tentang syariat Islam ternyata tak pernah dipenuhi. Iming-iming itu baru terealisasi 43 tahun kemudian, melalui Undang-Undang Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), yang disahkan pada 2002 silam, 16 tahun setelah Daud Beureueh wafat.
Kekecewaan itulah yang lalu diutarakannya berulang-ulang dalam setiap ceramahnya di masjid-masjid di Aceh maupun Medan.
Ahmad Farhan Hamid, putra Abdul Hamid, teman seperjuangan Daud Beureueh, punya kisah menarik soal ini. Tahun 1976, saat menjadi mahasiswa di Fakultas MIPA Universitas Sumatera Utara, Farhan pernah mengundang Daud Beureueh berceramah di kampus itu. Semula cuma diminta memberi khotbah agama, eh, Abu Daud malah masuk jauh ke wilayah politik.
“Dia juga memaki-maki pemerintah,” kata Farhan.
Memang, dalam setiap ceramahnya, Abu Daud tak henti mengkritik kebijakan pemerintah. Ia merasa pembangunan di Aceh tak pernah bisa melayani kebutuhan masyarakat. Ia menjadi saksi betapa di tanah mereka sendiri, orang Aceh cuma jadi penonton ketika Orde Baru membangun berbagai industri besar di sana.
Pada tahun 1970-an, misalnya, di Aceh Utara didirikan pabrik gas Arun. Tapi mesin industri yang menderu cepat itu hanya membuat rakyat Aceh kian tertinggal. Tak pelak, jurang itu melahirkan kembali perlawanan baru terhadap Jakarta di bawah pimpinan Teungku Muhammad Hasan Tiro.
Hasan Tiro, paham betul bahwa restu Daud Beureueh amatlah penting untuk menopang gerakannya. Itu sebabnya, sekembali dari Amerika Serikat, dua kali ia bertamu ke rumah Abu Daud untuk meminta sokongan.
Menurut Nazaruddin Sjamsuddin, sebagaimana pernah dituturkan langsung Daud Beureueh kepadanya, Hasan Tiro menemui sang Teungku pada akhir 1975, di rumahnya di Beureunuen, Aceh.
Dalam pertemuan itu Hasan Tiro penuh semangat menjelaskan isi dan strategi perjuangannya. Tapi Daud tak peduli dengan segala siasat itu, Ia malah bertanya.
“Apa dasarmu membentuk Aceh merdeka?” Hasan tersentak mendengar pertanyaan itu. Belum lagi dijawab, Daud Beureueh sudah menukas sembari menatap tajam.
“Kalau dasarnya Islam, silakan. Saya mendukung.”
Setelah terdiam sejenak, Hasan Tiro menjawab, “Untuk kesejahteraan masyarakat Aceh. Selama bergabung dengan Republik, Aceh tak mungkin makmur. Jadi, harus berdiri sendiri.”
Bukannya memuji, Daud Beureueh malah geleng-geleng kepala dan menarik napas panjang.
“Apa dasarmu sebenarnya?” ia kembali bertanya penuh selidik. Kembali, Hasan Tiro tercenung. “Aceh, kata Daud, butuh menjadi Islam, bukan merdeka.”
“Apa nanti pertanggungjawaban kita kepada Allah kalau dasarnya bukan Islam,” kata Nazaruddin mengutip Daud.
Hasan Tiro tak patah arang. Ia terus meyakinkan Daud Beureueh bahwa orang Aceh memang memerlukan kemerdekaan. Setelah sejam mereka bicara, akhirnya Daud mengangguk memberi restu. Hasan Tiro langsung bergerak cepat.
Kemerdekaan Aceh diproklamasikan pada 4 Desember 1976. Jakarta berang dan segera mengirim pasukan. Dalam sekejap pasukan Hasan Tiro terdesak, lalu bergerilya di gunung dan hutan. Namun para petinggi Republik paham betul, roh perlawanan Aceh yang sesungguhnya ada dalam diri Daud Beureueh.
Keputusan pun diambil. Legenda hidup itu harus diceraikan dari gemuruh pemberontakan Hasan Tiro. Sebuah tim khusus lalu dikirim ke Aceh untuk membawa Daud Beureueh ke Jakarta, pada 1 Mei 1978.
Hampir tiap hari Nazaruddin melihat pemandangan itu. Ada saja warga yang datang membawa makanan dan buah-buahan ke rumah itu. Tapi berbagai pendekatan dan pemberian dari Jakarta selalu ditampiknya.
Kesepakatan damai tak kunjung melumerkan kekerasan hatinya terhadap pemerintah pusat. Abu Daud kecewa. Janji tentang syariat Islam ternyata tak pernah dipenuhi. Iming-iming itu baru terealisasi 43 tahun kemudian, melalui Undang-Undang Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), yang disahkan pada 2002 silam, 16 tahun setelah Daud Beureueh wafat.
Kekecewaan itulah yang lalu diutarakannya berulang-ulang dalam setiap ceramahnya di masjid-masjid di Aceh maupun Medan.
Ahmad Farhan Hamid, putra Abdul Hamid, teman seperjuangan Daud Beureueh, punya kisah menarik soal ini. Tahun 1976, saat menjadi mahasiswa di Fakultas MIPA Universitas Sumatera Utara, Farhan pernah mengundang Daud Beureueh berceramah di kampus itu. Semula cuma diminta memberi khotbah agama, eh, Abu Daud malah masuk jauh ke wilayah politik.
“Dia juga memaki-maki pemerintah,” kata Farhan.
Memang, dalam setiap ceramahnya, Abu Daud tak henti mengkritik kebijakan pemerintah. Ia merasa pembangunan di Aceh tak pernah bisa melayani kebutuhan masyarakat. Ia menjadi saksi betapa di tanah mereka sendiri, orang Aceh cuma jadi penonton ketika Orde Baru membangun berbagai industri besar di sana.
Pada tahun 1970-an, misalnya, di Aceh Utara didirikan pabrik gas Arun. Tapi mesin industri yang menderu cepat itu hanya membuat rakyat Aceh kian tertinggal. Tak pelak, jurang itu melahirkan kembali perlawanan baru terhadap Jakarta di bawah pimpinan Teungku Muhammad Hasan Tiro.
Hasan Tiro, paham betul bahwa restu Daud Beureueh amatlah penting untuk menopang gerakannya. Itu sebabnya, sekembali dari Amerika Serikat, dua kali ia bertamu ke rumah Abu Daud untuk meminta sokongan.
Menurut Nazaruddin Sjamsuddin, sebagaimana pernah dituturkan langsung Daud Beureueh kepadanya, Hasan Tiro menemui sang Teungku pada akhir 1975, di rumahnya di Beureunuen, Aceh.
Dalam pertemuan itu Hasan Tiro penuh semangat menjelaskan isi dan strategi perjuangannya. Tapi Daud tak peduli dengan segala siasat itu, Ia malah bertanya.
“Apa dasarmu membentuk Aceh merdeka?” Hasan tersentak mendengar pertanyaan itu. Belum lagi dijawab, Daud Beureueh sudah menukas sembari menatap tajam.
“Kalau dasarnya Islam, silakan. Saya mendukung.”
Setelah terdiam sejenak, Hasan Tiro menjawab, “Untuk kesejahteraan masyarakat Aceh. Selama bergabung dengan Republik, Aceh tak mungkin makmur. Jadi, harus berdiri sendiri.”
Bukannya memuji, Daud Beureueh malah geleng-geleng kepala dan menarik napas panjang.
“Apa dasarmu sebenarnya?” ia kembali bertanya penuh selidik. Kembali, Hasan Tiro tercenung. “Aceh, kata Daud, butuh menjadi Islam, bukan merdeka.”
“Apa nanti pertanggungjawaban kita kepada Allah kalau dasarnya bukan Islam,” kata Nazaruddin mengutip Daud.
Hasan Tiro tak patah arang. Ia terus meyakinkan Daud Beureueh bahwa orang Aceh memang memerlukan kemerdekaan. Setelah sejam mereka bicara, akhirnya Daud mengangguk memberi restu. Hasan Tiro langsung bergerak cepat.
Kemerdekaan Aceh diproklamasikan pada 4 Desember 1976. Jakarta berang dan segera mengirim pasukan. Dalam sekejap pasukan Hasan Tiro terdesak, lalu bergerilya di gunung dan hutan. Namun para petinggi Republik paham betul, roh perlawanan Aceh yang sesungguhnya ada dalam diri Daud Beureueh.
Keputusan pun diambil. Legenda hidup itu harus diceraikan dari gemuruh pemberontakan Hasan Tiro. Sebuah tim khusus lalu dikirim ke Aceh untuk membawa Daud Beureueh ke Jakarta, pada 1 Mei 1978.
Dipimpin oleh Sjafrie Sjamsoeddin-Kepala Dinas Penerangan TNI-para utusan tiba di kediaman Abu Daud tak lama seusai salat subuh.
Dikisahkan Nur Ibrahimy, menantu Daud Beureueh, tim Sjafrie meminta kesediaan sang Teungku untuk ikut bersama mereka ke Jakarta.
“Kami diperintahkan membawa Abu Daud ke Jakarta untuk menjadi saksi di Pengadilan Negeri Surabaya dalam perkara Haji Ismail yang dituding terlibat aksi Komando Jihad,” kata salah seorang anggota rombongan itu.
Peristiwa ini disaksikan langsung Teungku Nya’Aisah, istri ketiga Daud Beureueh. Karena sudah tua, sakit-sakitan pula, Daud Beureueh berkeberatan dibawa ke ibu kota Republik.
Dengan santun ia menjawab, “Maaf, bukannya tidak bersedia, saya ini sudah uzur. Saya mau bersaksi di sini saja.” Tapi tim Sjafrie berkeras.
Masih menurut Nur Ibrahimy, mereka lalu memegangi kaki dan tangan Daud Beureueh. Salah satunya sigap menyuntikkan obat bius. Tapi, karena sang Teungku keras memberontak, jarum suntik pun patah.
“Darah berceceran dan membasahi baju Abu Daud,” kata Nur.
Dikisahkan Nur Ibrahimy, menantu Daud Beureueh, tim Sjafrie meminta kesediaan sang Teungku untuk ikut bersama mereka ke Jakarta.
“Kami diperintahkan membawa Abu Daud ke Jakarta untuk menjadi saksi di Pengadilan Negeri Surabaya dalam perkara Haji Ismail yang dituding terlibat aksi Komando Jihad,” kata salah seorang anggota rombongan itu.
Peristiwa ini disaksikan langsung Teungku Nya’Aisah, istri ketiga Daud Beureueh. Karena sudah tua, sakit-sakitan pula, Daud Beureueh berkeberatan dibawa ke ibu kota Republik.
Dengan santun ia menjawab, “Maaf, bukannya tidak bersedia, saya ini sudah uzur. Saya mau bersaksi di sini saja.” Tapi tim Sjafrie berkeras.
Masih menurut Nur Ibrahimy, mereka lalu memegangi kaki dan tangan Daud Beureueh. Salah satunya sigap menyuntikkan obat bius. Tapi, karena sang Teungku keras memberontak, jarum suntik pun patah.
“Darah berceceran dan membasahi baju Abu Daud,” kata Nur.
Daud Beureueh yang sudah terkulai lemas lalu dilarikan dengan jip menuju helikopter yang sudah disiagakan. Ia pun dibawa ke Medan, lalu ke Jakarta.
Menurut Nur Ibrahimy, alasan menjadi saksi dalam perkara Komando Jihad itu cuma dalih untuk membawa paksa Abu Daud keluar dari tanah Aceh. Sjafrie Sjamsoeddin mengakui memang dialah yang memimpin tim untuk “mengambil” Daud Beureueh.
“Ya, kami yang menjemput beliau,” ujarnya. Tapi, menurut versi Sjafrie, ketika itu Abu Daud tak sempat melawan, juga tak ada kekerasan berarti, karena obat bius yang disuntikkan cepat bekerja.
Jenderal bekas Panglima Kodam Jaya itu mengungkapkan penjemputan pemimpin karismatik Aceh ini memang dilandasi kekhawatiran bahwa Daud Beureueh akan kembali naik gunung menyokong Gerakan Aceh Merdeka (GAM), yang sedang sengit-sengitnya digelorakan Hasan Tiro.
Saat itu perlawanan gerilya Hasan Tiro memang telah merasuki sebagian rakyat Aceh. Dari hutan, mereka gencar menyerang sejumlah fasilitas pemerintah dan perusahaan asing yang beroperasi di Aceh.
Pada awal 1978, misalnya, pasukan Tiro bahkan berhasil menerobos masuk ke pabrik LNG Arun di Aceh Utara. Serangan itu menewaskan seorang pekerja warga Amerika. Namun, di mata Nur Ibrahimy, ketakutan pemerintah pusat itu kelewat berlebihan.
Menurut dia, Abu Daud tak pernah sepenuhnya menyetujui gerakan kemerdekaan versi Hasan Tiro itu. Sebabnya, “GAM ini bersifat sekuler dan meski kurang Islami.”
Di Jakarta, mulanya Daud Beureueh tinggal di rumah menantunya, Muhammadiyah Haji, di Jalan Tomang, Jakarta Barat. Tapi tak berapa lama kemudian pemerintah lalu mengontrak sebuah rumah, persis di samping kediaman sang menantu. Bangunannya besar, megah, tapi sepi. Di situlah kemudian Abu Daud harus menetap seorang diri. Keperluan ia makan diurus anak dan menantunya.
“Tiap hari saya dan istri bawa makanan ke rumahnya,” kata Nur mengenang. Opor ayam dan ilieh alias belut goreng ala Aceh adalah makanan kesukaan Teungku Daud.
Untunglah, masih ada yang menghibur hatinya. Daud Beureueh selalu berseri-seri saat orang Aceh di Jakarta datang mengunjunginya. Atau juga kala ia berceramah di masjid dan menghadiri acara diskusi, meski dalam lingkup yang sangat terbatas. Di Jakarta, ruang gerak Daud Beureueh jelas tak lagi leluasa. Aparat keamanan terus mengintainya. Pemerintah cemas, siapa tahu di antara tetamu itu menyusup seorang gerilyawan Aceh.
Menurut Nur Ibrahimy, aparat intel, baik dari kepolisian maupun militer, saban hari mengawasi rumah kontrakan di Tomang itu, juga ketat menguntit ke mana pun Daud Beureueh melangkah. Karena itulah, Abu Daud sendiri menyebut kediaman megahnya di Tomang itu sebagai “sangkar emas pemerintah Indonesia”.
Dikungkung begitu, lama-kelamaan tergerogoti juga kesehatan Daud Beureueh. Beberapa kali ia jatuh sakit, dirongrong diabetes dan paru-paru basah. Berkali-kali ia minta pulang ke Aceh. Tapi baru pada 1982, saat kondisi kesehatannya terus merosot, pemerintah mengabulkannya.
Di Aceh, ia kembali menempati bilik di samping masjid di kampung kelahirannya. Tapi sakitnya kian parah. Tahun 1985, ia terjatuh dari ranjang. Engsel pinggulnya cedera berat, dan ia tak sanggup lagi berdiri. Walau begitu, semangatnya tak pernah pudar.
Dalam keadaan selalu terbaring di tempat tidur ia tetap menerima tamu dari berbagai kalangan: pejabat pemerintah, mahasiswa yang sedang menyusun skripsi, atau petani yang sekadar ingin mencium tangannya.
Sikap kritisnya terhadap pemerintah pusat pun tak lumer. Berkali-kali dia mengirim surat ke Presiden Soeharto, mengingatkan kian merebaknya kemerosotan moral di Serambi Mekah. Ia baru menyerah ketika ajal datang menjemput.
Rabu, 10 Juni 1987, Abu Daud menutup mata, dalam usia 89 tahun. Dari Jakarta, Presiden Soeharto mengirim karangan bunga dan kawat khusus duka cita. Jasad Teungku Daud Beureueh, bersama segenap impiannya tentang masa depan Aceh, dimakamkan di bawah pohon mangga di pekarangan Masjid Baitul A’la lil Mujahidin di Beureunuen, sebagaimana yang ia minta. (atjehcyber/tempo 2003/lasdipo)
Menurut Nur Ibrahimy, alasan menjadi saksi dalam perkara Komando Jihad itu cuma dalih untuk membawa paksa Abu Daud keluar dari tanah Aceh. Sjafrie Sjamsoeddin mengakui memang dialah yang memimpin tim untuk “mengambil” Daud Beureueh.
“Ya, kami yang menjemput beliau,” ujarnya. Tapi, menurut versi Sjafrie, ketika itu Abu Daud tak sempat melawan, juga tak ada kekerasan berarti, karena obat bius yang disuntikkan cepat bekerja.
Jenderal bekas Panglima Kodam Jaya itu mengungkapkan penjemputan pemimpin karismatik Aceh ini memang dilandasi kekhawatiran bahwa Daud Beureueh akan kembali naik gunung menyokong Gerakan Aceh Merdeka (GAM), yang sedang sengit-sengitnya digelorakan Hasan Tiro.
Saat itu perlawanan gerilya Hasan Tiro memang telah merasuki sebagian rakyat Aceh. Dari hutan, mereka gencar menyerang sejumlah fasilitas pemerintah dan perusahaan asing yang beroperasi di Aceh.
Pada awal 1978, misalnya, pasukan Tiro bahkan berhasil menerobos masuk ke pabrik LNG Arun di Aceh Utara. Serangan itu menewaskan seorang pekerja warga Amerika. Namun, di mata Nur Ibrahimy, ketakutan pemerintah pusat itu kelewat berlebihan.
Menurut dia, Abu Daud tak pernah sepenuhnya menyetujui gerakan kemerdekaan versi Hasan Tiro itu. Sebabnya, “GAM ini bersifat sekuler dan meski kurang Islami.”
Di Jakarta, mulanya Daud Beureueh tinggal di rumah menantunya, Muhammadiyah Haji, di Jalan Tomang, Jakarta Barat. Tapi tak berapa lama kemudian pemerintah lalu mengontrak sebuah rumah, persis di samping kediaman sang menantu. Bangunannya besar, megah, tapi sepi. Di situlah kemudian Abu Daud harus menetap seorang diri. Keperluan ia makan diurus anak dan menantunya.
“Tiap hari saya dan istri bawa makanan ke rumahnya,” kata Nur mengenang. Opor ayam dan ilieh alias belut goreng ala Aceh adalah makanan kesukaan Teungku Daud.
Untunglah, masih ada yang menghibur hatinya. Daud Beureueh selalu berseri-seri saat orang Aceh di Jakarta datang mengunjunginya. Atau juga kala ia berceramah di masjid dan menghadiri acara diskusi, meski dalam lingkup yang sangat terbatas. Di Jakarta, ruang gerak Daud Beureueh jelas tak lagi leluasa. Aparat keamanan terus mengintainya. Pemerintah cemas, siapa tahu di antara tetamu itu menyusup seorang gerilyawan Aceh.
Menurut Nur Ibrahimy, aparat intel, baik dari kepolisian maupun militer, saban hari mengawasi rumah kontrakan di Tomang itu, juga ketat menguntit ke mana pun Daud Beureueh melangkah. Karena itulah, Abu Daud sendiri menyebut kediaman megahnya di Tomang itu sebagai “sangkar emas pemerintah Indonesia”.
Dikungkung begitu, lama-kelamaan tergerogoti juga kesehatan Daud Beureueh. Beberapa kali ia jatuh sakit, dirongrong diabetes dan paru-paru basah. Berkali-kali ia minta pulang ke Aceh. Tapi baru pada 1982, saat kondisi kesehatannya terus merosot, pemerintah mengabulkannya.
Di Aceh, ia kembali menempati bilik di samping masjid di kampung kelahirannya. Tapi sakitnya kian parah. Tahun 1985, ia terjatuh dari ranjang. Engsel pinggulnya cedera berat, dan ia tak sanggup lagi berdiri. Walau begitu, semangatnya tak pernah pudar.
Dalam keadaan selalu terbaring di tempat tidur ia tetap menerima tamu dari berbagai kalangan: pejabat pemerintah, mahasiswa yang sedang menyusun skripsi, atau petani yang sekadar ingin mencium tangannya.
Sikap kritisnya terhadap pemerintah pusat pun tak lumer. Berkali-kali dia mengirim surat ke Presiden Soeharto, mengingatkan kian merebaknya kemerosotan moral di Serambi Mekah. Ia baru menyerah ketika ajal datang menjemput.
Rabu, 10 Juni 1987, Abu Daud menutup mata, dalam usia 89 tahun. Dari Jakarta, Presiden Soeharto mengirim karangan bunga dan kawat khusus duka cita. Jasad Teungku Daud Beureueh, bersama segenap impiannya tentang masa depan Aceh, dimakamkan di bawah pohon mangga di pekarangan Masjid Baitul A’la lil Mujahidin di Beureunuen, sebagaimana yang ia minta. (atjehcyber/tempo 2003/lasdipo)
sifat orang aceh pidie
![]() |
| sifat orang aceh pidie |
Sekali waktu cobalah blusukan ke pasar-pasar tradisional dan kawasan niaga yang tersebar di Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh. Amati dengan saksama para pelaku pasar, khususnya para pedagangnya.
Ya, hampir semua pasar dan pusat niaga di 18 kecamatan itu dimonopoli oleh saudagar asli Pidie. Sebaliknya, etnis China yang dikenal lihai berdagang, hampir tak terlihat eksistensinya.
Di Sigli, ibu kota Pidie misalnya, hanya ada segelintir pedagang China. "Bahkan, di Pasar Beureunuen saya tidak menemukan pedagang China," ungkap Sudiarto, salah satu penulis buku berjudul Kota-kota di Sumatra (2012).
Padahal, kita tahu, Beureunuen adalah pasar terbesar di Kabupaten Pidie. Tak hanya itu, suku-suku lainnya di luar Aceh juga tak tampak menggelar barang dagangannya.
Atas kelihaian dan kemahiran pedagang Pidie inilah banyak orang menjulukinya sebagai China Hitam. Sebutan itu bisa ditafsirkan lantaran mereka mampu bersaing dengan saudagar China yang selama ini dikenal sebagai pedagang yang teliti dan cermat dalam berhitung.
Memang Unik
Pidie memang unik. Boleh saja etnis China menguasai bisnis dagangnya di Banda Aceh, Blang Pidie, dan Langsa, namun di Pidie, warga lokallah yang berjaya menggerakkan roda ekonomi perniagaan.
Saudagar Pidie tak cuma berjaya di kampung halamannya. Di luar wilayahnya itu mereka juga eksis melabarkan sayap perniagaannya. Kota-kota dan kabupaten di Aceh juga marak dengan pedagang Pidie.
Eksistensi mereka juga meluas hingga ke kota-kota besar di Pulau Sumatra. Bahkan, sebagian dari mereka merantau hingga ke Pulau Jawa, khususnya di DKI Jakarta. Di kawasan Pasar Minggu misalnya, tak sulit bagi kita untuk menemukan pedagang Pidie.
Unsur geografis dan historis boleh jadi menjadi salah satu penyebab mereka mahir menjadi saudagar. Secara geografis, Pidie sangatlah strategis. Bayangkan, kabupaten ini berada di jalur strategis yang menghubungkan Banda Aceh dan Medan, Sumatra Utara.
Dari Banda Aceh menuju Sigli (ibu kota Pidie) hanya berjarak 112 km dengan waktu tempuh sekitar dua jam. Sedangkan dari Medan berjarak sekitar 496 km dan biasanya dapat dijangkau selama 10 jam perjalanan darat.
Jika dilihat secara historis, Pidie juga memiliki catatan sejarah yang fenomenal. Berada di tepi pantai Selat Malaka, jelas Pidie sangat strategis bagi pelayaran, baik domestik maupun internasional.
Sejarah mencatat, dulu Pidie pernah melayani jalur pelayaran internasional di jalur antara India dan China. Praktis, kawasan ini menjadi pusat perniagaan yang gemerlap. Kapal-kapal niaga terlihat hiruk-pikuk bongkar-muat barang dagangan di pelabuhan tersebut.
Kini, kondisinya berubah 180 derajat. Pidie tak lagi memiliki akses pelayaran internasional. Lebih ironis lagi, pelabuhan domestik juga tak dijumpai di sana. Pelabuhan internasional di kawasan Aceh kini beralih ke Malahayati (Banda Aceh), Sabang, Langsa, dan Lhokseumawe.
Kemerosotan infrastruktur juga terjadi pada jalur kereta api. Sebelum tahun 1971, Pidie dapat dijangkau dengan kereta api yang menguhubungkan Banda Aceh dan Medan.
Kini, rel itu tak lagi dilintasi kereta api. "Pernah ada rencana untuk mengaktifkan kembali, namun bencana tsunami dahsyat pada 26 Desember 2004, mengurungkan niat tersebut," tutur Sudiarto.
Makmur Sejahtera
Jauh sebelum Indonesia dijajah kolonialis, Pidie adalah kota makmur dan sejahtera. Musafir China, Fa Hian, ketika singgah di kota tersebut pada tahun 413 Masehi bercerita mengenai kejayaan tersebut. "Poli (sekarang Pidie) adalah sebuah negeri yang makmur. Rajanya berkendara gajah, berpakaian sutra, dan bermahkota emas," ujar Hian.
Begitu juga penulis Inggris, Prof DGE Hall. Dia melukiskan Pidie sebagai sebuah negeri yang maju pada akhir abad ke-15. "Pedir (sebutan untuk Pidie) disinggahi 18–20 kapal asing setiap tahun," ungkap Hall.
Kapal-kapal itu memuat produk khas daerah tersebut (lada, kemenyan, dan sutra) untuk selanjutnya diekspor ke China dan negara-negara lainnya. Masyarakatnya juga dikenal piawai dalam membuat senjata api.
Saking ramainya, sejarawan lain mengatakan di sebuah jalan di dekat pelabuhan tersebut sekitar 500 orang berprofesi sebagai penukar mata uang asing. Pidie ketika itu sudah menggunakan uang emas, perak, dan tembaga sebagai alat jual-beli.
Tak hanya itu, Pidie tempo dulu juga sudah menerapkan aturan hukum yang baik. Ahli sejarah kuno, Winstedt, menyebut Poli atau Pidie sebagai kawasan yang makmur dan jaya. "Setelah Sriwijaya dan Pasai, Poli adalah bandar pelabuhan yang terkenal," ungkapnya.
Itulah gambaran sekilas betapa Pidie di masa lalu bergelimang kemakmuran. Ketika Belanda mulai menjajah Nusantara, tokoh Pidie juga tak tinggal diam. Teuku Cik Di Tiro, ulama ternama asal Pidie, maju di garis terdepan memimpin perjuangan melawan kolonialis tersebut.
Berkat kegigihan itu, kolonial Belanda dibuat repot dan kesulitan dalam memperluas wilayah jajahan di Bumi Serambi Mekah. Atas jasa-jasa membela Tanah Airnya itulah, Pemerintah Indonesia menganugerahkan Teuku Cik Di Tiro sebagai pahlawan nasional.
Sesaat sebelum Indonesia memproklamasian kemerdekaan, tokoh Pidie lainnya, Teuku Muhammad Hassan, juga ikut berkontribusi mempersiapkan masa-masa indah bebas dari kungkungan penjajah. Ketika itu ia menjadi anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia.
Setelah Indonesia merdeka, Hasan Tiro malah menjadi tokoh pemberontakan di bawah bendera Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Cucu Teuku Cik Di Trio itu bersama rekan satu daerahnya, yakni ulama ternama Daud Beureueh, melakukan perlawanan dengan Jakarta.
Di luar tokoh kontroversial tersebut, Pidie juga melahirkan banyak tokoh nasional. Di masa Orde Baru hingga sekarang, misalnya, ada tiga putra Pidie yang diangkat menjadi menteri, yakni Ibrahim Hassan, Hasballah M Saad, dan Mustafa Abu Bakar.
Selain itu, di masa Orba yang menjadi Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan adalah Tengku Ismail Hassan Metareum, putra asli Pidie. Itulah Pidie. Kawasan ini melahirkan generasi multitalenta yang telah menorehkan sejarah berharga.
Pidie Menjadi Lumbung Padi bagi Aceh
Produktivitas padi di Pidie mencapai 7,31 ton per hektare (ha). Angka ini jauh melebihi hasil panen rata-rata, baik di tingkat provinsi maupun nasional.
Siapa saja yang ingin menanam padi, tak ada salahnya meniru kesuksesan para petani di Kabupaten Pidie. Bukan apa-apa, produktivitas padi di lahan pertanian Pidie jauh melebihi nilai rata-rata, baik di tingkat Provinsi Aceh maupun nasional.
Menurut data statistik daerah Kabupaten Pidie (2010), para petani Pidie mampu memanen padi dengan hasil sekitar 7,31 ton per ha dalam bentuk gabah kering giling (GKG) pada tahun 2009. Bandingkan dengan produktivitas rata-rata di Aceh yang hanya 4,33 ton per ha GKG. Sementara itu, produktivitas rata-rata nasional mencapai sekitar 5 ton per ha GKG.
Dengan luas panen sekitar 40.000 ha, Pidie dikenal sebagai lumbung padi bagi NAD. Sekitar 20 persen padi di Aceh berasal dari Pidie. Padi-padi itu berasal dari 76 persen warga Pidie yang bermata pencarian sebagai petani.
Di lahan perkebunan, mereka umumnya menanam kopi, kakao, pinang, dan kelapa. Berdasarkan catatan, sektor pertanian menjadi kontributor terbesar bagi produk domestik regional bruto (PDRB) Pidie, yakni sekitar 61 persen.
Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah mengapa tanaman penghasil lada dan kemenyan yang sempat berjaya di masa lalu tak lagi dikembangkan secara masif? Kata-kata mutiara Presiden Soekarno: Jasmerah atau jangan sekali-kali melupakan sejarah, tampaknya patut direnungkan kembali.
Subscribe to:
Posts
(
Atom
)




