Showing posts with label kampus. Show all posts
Friday, March 11, 2016
Rektor Ganteng Universitas Malahayati Ternyata Putra aceh
BERKULIT putih bersih, selalu berbusana rapi dan trendi. Saat berjalan langkahnya cepat dan dada membusung tegak. Berpapasan dengannya pasti melihat senyuman yang menggoda dan mendengar sapaannya yang teduh. Ia juga ramah, bertutur santun, dan berbahasa teratur.Dialah Muhammad Kadafi. Menyandang gelar doktor, saat ini ia menjabat sebagai rektor di Universitas Malahayati. Di tangan akademisi muda berwajah tampan inilah biduk kendali kemajuan kampus yang terletak di Kota Bandar Lampung itu melaju. Di masa kepemimpinannya, akreditasi berbagai program studi meningkat. Memang ini salah satu program utamanya.
Hari itu, akhir Maret 2015, Kadafi menerima kru malahayati.ac.id di ruang kerjanya di lantai lima Gedung Rektorat Universitas Malahayati untuk sebuah bincang-bincang ringan. Ia mengenakan setelan jas abu-abu yang serasi dengan dasi dan sepatu berwarna gelap mengkilap yang lalat pun bisa terpeleset bila hinggap. Rambutnya tertata rapi. Ruangan kantornya tak kalah rapi. Rak di belakangnya bersusun buku. Interior ruangan sekelas Da Vinci –produk interior asal Italia yang mendunia– itu bernuansa seni yang anggun dengan pengaturan warna yang serasi.
Kadafi bukanlah pejabat yang sibuk memoles citra. Ketika kru malahayati.ac.id merakit peralatan rekam video wawancara, ia melepaskan jas dan ikut membantu. Ia juga tidak segan-segan meminta pendapat dan memberi ide.
Ia mengungkapkan sebuah harapan untuk para mahasiswanya agar mampu berkompetisi di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) di masa mendatang. “Dari sekarang kita wajib mempersiapkan diri untuk persaingan global itu,” kata Kadafi. “Kita mempersiapkan diri untuk mampu bersaing di era MEA.”
Ia mengatakan mahasiswa di Universitas Malahayati setelah menyelesaikan kuliah tak hanya sekedar menggenggam ijazah saja, tapi juga memiliki kesiapan diri berkompetisi dalam dunia bebas. “Artinya seorang mahasiswa di masa sekarang ini tak cukup sekadar berbekal ilmu, tetapi juga memiliki jejaring dengan berbagai komponen yang positif untuk membuatnya ekses di bidangnya,” kata Kadafi.
Itulah sebabnya, kata Kadafi, Universitas Malahayati terus meningkatkan jalinan kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi di dalam negeri dan di luar negeri. “Kita juga mengirim mahasiswa ke luar negeri untuk studi banding,” katanya. Kadafi sudah merintis kerja sama dengan luar negeri, salah satunya adalah Malaysia. Yang terbaru, Kadafi sudah menjalin hubungan dengan Capital Medical University, Beijing, Cina. “Kita bisa mengirim mahasiswa untuk menimba ilmu ke Cina. Perkembangan Cina yang demikian pesatnya akan menjadikannya sebagai negara penguasa perekonomian dunia di masa depan.” Kadafi dengan berbagai jejaring yang sudah dibangunnya juga berupaya menggali segala informasi yang dibutuhkan untuk membangun Universitas Malahayati agar lebih eksis.
LAHIR di Aceh Besar pada 8 Oktober 1983, Kadafi menghabiskan masa kecilnya di Aceh. Ia menamatkan Madrasah Ibtidaiah Negeri (MIN) 1 Banda Aceh pada 1995, kemudian menyelesaikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Banda Aceh. Lalu, Kadafi pindah ke Bandar Lampung dan bersekolah di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 9 Bandar Lampung. Ia meraih gelar Sarjana Hukum di Fakultas Hukum Universitas Lampung, Bandar Lampung, pada 2006, sebagai lulusan terbaik. Sejak 2007, Kadafi mulai menjadi dosen di Universitas Malahayati. Sembari mengajar ia terus melanjutkan studinya, kemudian memperoleh gelar Magister Hukum di Program Pascasarjana Universitas Lampung, Bandar Lampung, pada 2009.
Kadafi lalu melanjutkan kuliah Program Doktor Ilmu Hukum di Universitas Diponegoro dan meraih gelar doktor pada 2015. Ia berhasil mempertahankan disertasinya pada ujian promosi doktor di Kampus Undip, pada 27 Februari 2015. Penelitiannya berjudul “Rekonstruksi Kebijakan Pertanahan Berbasis Pluralisme Hukum” mengupas persoalan hak kepemilikan tanah di Aceh Besar pascatsunami 2004. Pendekatan pluralisme hukum (legal pluralism) ditawarkan Kadafi dalam penyelesaian sengketa masalah tanah di Aceh Besar setelah musibah tsunami.
Dalam pemaparan di hadapan para penguji, Kadafi menyatakan bahwa penyelesaian sengketa tanah melalui hukum formal seperti dalam penelitiannya banyak tidak tuntas. Untuk itu, Kadafi merumuskan model dengan pendekatan adat dan nilai hukum yang berlaku di masyarakat Aceh Besar. “Di Aceh Besar ada janda korban tsunami yang kehilangan kepemilikan tanah yang seharusnya hak dia, dan persoalan ini banyak terjadi,” katanya.Prof. Dr. Yos Johan Utama, S.H. M.Hum., Dekan Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, yang memimpin sidang selama 2,5 jam itu menyebut Kadafi sebagai doktor ahli tanah khusus bencana. “Jika saya bidang hukum pertanahan, maka saudara ini doktor khusus tanah bencana,” ujarnya mencandai Kadafi.
Pada 2011, Kadafi diangkat menjadi Rektor Universitas Malahayati. Selain sebagai rektor, Kadafi adalah Direktur PT Pertamina Bintang Amin dan Wakil Direktur Keuangan Rumah Sakit Bintang Amin Husada, Bandar Lampung, Lampung. Karena itu, ia didapuk menjadi Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Lampung dan Wakil Ketua Kantor Dagang Indonesia (Kadin) Lampung. Pemerintah Kota Bandar Lampung juga mempercayai Kadafi menjadi staf ahli bidang pendidikan.
Kendati banyak kegiatan yang digelutinya, Kadafi tetap fokus membesarkan kampusnya. Ia pun merancang tekad menjadikan Malahayati sebagai kampus berstandar internasional. “Namun tetap mengacu pada etika dan religius, yang menjadi ciri khas kita sebagai orang Indonesia,” kata Khadafi.
Universitas Malahayati saat ini menerapkan sistem asrama bagi mahasiswanya. Dengan begitu, mahasiswa bisa fokus menuntut ilmu. Setiap siswa yang tinggal di asrama diwajibkan menyantuni seorang anak yatim. Anak-anak yatim ini nantinya wajib dihadirkan sebagai pendamping saat mereka wisuda.
Selain para mahasiswa, manajemen kampus dan yayasan secara berkelanjutan memberi santunan untuk anak yatim. “Bahkan di Makasar kita juga punya sekitar 250 anak yatim,” kata Kadafi. “Kami juga memberi hadiah umrah bagi ibu anak yatim yang berprestasi terbaik.”
“JIKA diibaratkan manusia, Universitas Malahayati kini melangkah menuju kedewasaan, ia sudah mengarungi dan melalui jiwa kekanak-kanakan dan juga masa remaja yang penuh gejolak dalam mencari jati diri,” kata Kadafi.
Saat buku ini ditulis, Universitas Malahayati sudah berusia 22 tahun. Didirikan oleh H. Rusli Bintang pada Jumat 27 Agustus 1993. Berawal dari merangkak-rangkak dari ruko di Jalan Kartini, Bandar Lampung, kini gedungnya bertebar di areal berbukit seluas 84 hektare di Jalan Pramuka 27, Kemiling, Bandar Lampung.
“Pak Rusli adalah orang tua kita bersama. Beliau membangun kampus ini bukanlah untuk kepentingan pribadi, tetapi bentuk pengabdian beliau dalam menjalani kehidupan. Itulah sebabnya, semua kampus yang didirikannya selalu mengutamakan kepentingan sosial, terutama untuk menyantuni anak-anak yatim.”
Jejak kampus ini, kata Kadafi tak lepas dari langkah-langkah yang sudah ditempuh pendirinya. “Jika kita lihat langkah-langkah yang ditempuhnya, tentu tak bisa kita cerna dengan logika sederhana. Bagaimana ia yang anak yatim, hanya sekolah tamatan SMA, namun bisa mendirikan empat kampus di berbagai daerah,” katanya.
Sangat jamak jika dalam perjalanannya Universitas Malahayati tentu diwarnai berbagai dinamika, seperti halnya manusia yang dalam sejarah peradabannya sering dipenuhi berbagai pertentangan dan sinergi. Laksana dua buah kutub medan magnet yang menimbulkan daya tolak satu sama lain atau dua muatan listrik yang saling tarik menarik yang menghasilkan energi, lalu dari sini bisa menjadi penerangan atau kerusakan.“Pertanyaannya adalah bagaimana kita tetap menjaga dua muatan listrik ini tetap saling tarik menarik dan menghasilkan penerangan bagi kampus ini?” Kadafi bertanya.
Di kampus Universitas Malahayati ada ribuan orang dengan berbagai pola pikir yang berbeda-beda, dan juga sifat dan karakter yang beragam. Itu semua, kata Kadafi, dapat menghasilkan sebuah energi besar untuk mendorong Universitas Malahayati menjadi lembaga pendidikan yang sangat diperhitungkan.
“Intinya adalah menyatukan pikiran ke arah yang positif. Maka, insya Allah akan berwujud pada sebuah makna kehidupan yang bernilai tinggi di Universitas Malahayati ini.”
“Untuk membangun masa depan yang lebih cerah, let’s challenge the future with Malahayati University,” kata Kadafi.
DI tengah-tengah kesibukannya yang padat mengurusi kampus dan beberapa organisasi, Kadafi ternyata tetap menyisihkan waktu khusus untuk keluarga. Ia juga gemar memelihara hewan. Ia pernah merawat seekor harimau sumatera dan memelihara tupai terbang. “Saat saya bertugas di di Universitas Abulyatama Aceh,” katanya. Kedua hewan itu, belakangan dilepas ke alam bebas, ketika kembali bertugas di Universitas Bandar Lampung.
Kini, ia adalah bagian dari komunitas penggemar burung kicau. Di samping kiri rumahnya di kompleks kampus Universitas Malahayati, ia membeli sebidang tanah khusus untuk penangkaran burung. Kelihatannya, ia sangat serius merawat aneka jenis burung di penangkaran itu. Berbagai jenis hewan berkicau ada di sana. Misalnya ada berbagai jenis jalak, murai, love bird, dan berbagai jenis burung lainnya. Ada pula jenis unggas yang hampir punah seperti jalak bali. “Kita komunitas pencinta burung kicau juga berupaya melestarikan burung-burung kicau dengan membuat penangkaran dan menjaga kesinambungan kehidupannya,” kata Kadafi yang terpesona dengan keindahan jalak bali, dan terbuai dengan nyanyian kacer dan merdunya kicau murai batu.
Kadafi mengakui untuk hobinya itu ia membutuhkan biaya. “Biasanya ada saja rezeki yang datang dari burung itu sendiri, misalnya ada berbagai perlombaan maka saya ikuti, hadiah-hadiah perlombaan saya gunakan untuk merawat mereka,” katanya. Burung kicau dari penangkaran Kadafi memang menyabet sejumlah pernghargaan dengan hadiah ratusan juta rupiah. Di dekat penangkaran, berjejer berbagai piala yang diperoleh dari kicau burungnya yang menawan. Di antaranya ada Piala Hamengku Buwono IX, Piala Gubernur DKI Jakarta, Piala Gubernur Jawa Barat.
Kadafi tentu tak menafikan bahwa ada orang-orang yang menyukai burung dan membeli di penangkarannya. “Melestarikan burung bukan semata-mata karena uang, tapi kalau itu bisa menghasilkan kenapa tidak,” katanya. Namun, terlepas dari itu semua, kehadiran aneka burung itu telah menghadirkan kenyaman sendiri di rumah Kadafi. “Proses dan seni itu yang terasa nikmat,” katanya.
Itulah sebabnya, kompleks perumahan ini seperti berada di taman yang asri. Burung-burung bernyanyi membuai penghuninya yang bermukim di tengah-tengah kawasan kampus yang rimbun dengan pepohonan. []
Catatan: Tulisan ini adalah penggalan kisah dalam buku “Inspirasi, Spirit & Dedikasi”karya Nurlis E. Meuko dan editor Yuswardi A. Suud.
SUMBER : http://atjehpost.com/
Thursday, March 10, 2016
Lihatlah peringkat kampus anda yang ada di Aceh
IDEA rilis Peringkat Webometrics Perguruan Tinggi di Aceh
BANDA ACEH, Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta di Aceh semakin lama semakin berkembang dan diharapkan bisa bersaing di level nasional, terutama setelah didirikannya KOPERTIS XIII Wilayah Aceh beberapa tahun yang lalu. Keberhasilan Universitas Syiah Kuala (Unysiah) menjadi salah satu dari sedikit Perguruan Tinggi yang berakreditasi A di Indonesia membuktikan bahwa sebenarnya PTN dan PTS di Aceh memiliki daya saing yang bagus.Setelah pada Februari 2016 yang lalu Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (KEMENRISTEKDIKTI) merilis peringkat PTN dan PTS di Indonesia, PTN dan PTS di Aceh harus lebih giat berbenah untuk memperbaiki kegiatan Tridharma Perguruan Tingginya, karena hanya dengan Pengajaran, Penelitian dan Pengabdian dari Dosen dan Mahasiswanyalah Perguruan Tinggi dapat maju.
Awal Maret 2016, Komunitas IDEA yang bergerak di bidang pendidikan merilis peringkat Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta di Aceh berdasarkan penilaian yang dilakukan oleh Webometric, salah satu perangkat atau sistem untuk mengukur atau memberikan penilaian terhadap kemajuan seluruh universitas atau perguruan tinggi terbaik di dunia (World Class University) melalui Website kampus tersebut.
Peringkat Webometrics yang dimulai sejak tahun 2004 ini bisa menjadi patokan bagi calon mahasiswa dalam memilih universitas terbaik yang ada di Indonesia maupun di dunia.
Webometrics telah melakukan pemeringkatan terhadap 20.000 perguruan tinggi dari 200 negara. Bagaimana dengan PTN dan PTS di Aceh?
Program Manager IDEA, Jurnalis J. Hius mengatakan PTN dan PTS di Aceh mulai menggeliat memperbaiki dan memaksimalkan fungsi Websitesnya sebagai Pusat Informasi Kampus, sehingga ada pergerakan yang signifikan di peringkat Webometric.
“Unsyiah masih menjadi Kampus nomor 1 di Aceh, selain karena PTN terbaik, mahasiswa dan dosennya pun banyak, sehingga aktifitas Websitesnya pun ramai, ini sangat berpengaruh di penilaian Webometric”, Imbuh Jurnalis seraya menambahkan bahwa beberapa kampus yang memiliki mahasiswa yang ramai belum tentu memiliki peringkat yang bagus, karena mereka tidak memanfaatkan websitesnya.
Pemeringkatan Webometrics di Indonesia dapat diakses melalui alamat situs http://webometrics.info/en/Asia/ Indonesia%20. Masyarakat dapat melihat kampus mana yang telah diakui secara international sebagai kampus World Class University di Indonesia.
IDEA merilis pemeringkatan PTN dan PTS di Aceh yang diambil dari data Webometric dan menyajikannya kepada masyarakat akademik dan non akademik.
IDEA merilis pemeringkatan PTN dan PTS di Aceh yang diambil dari data Webometric dan menyajikannya kepada masyarakat akademik dan non akademik.
Webometric mengacu pada paramater penilaian seperti Presence, yakni Jumlah halaman web host dalam webdomain utama (termasuk semua subdomain dan direktori) dari universitas yang diindeks oleh mesin pencari Google. Penilaian ini menghitung setiap halaman web. Penilaian selanjutnya adalah Impact, yaitu banyaknya tautan luar yang merujuk pada websites kampus tersebut.
“keaktifan menulis dari dosen dan mahasiswa sangat bermanfaat untuk menambah nilai dari visibility websites, Indikatornya adalah produk dari jumlah backlink dan jumlah domain yang berasal dari backlink tersebut, sehingga tidak hanya penting popularitas link tetapi juga keragaman link”, tambah Jurnalis JH.
Selanjutnya penilaian bersumber dari Openess, yakni banyaknya jumlah berbagai jenis file yang dirujuk (baik upload maupun download) dari websites kampus. Keaktifan petugas administrasi di kampus memanfaatkan websites sebagai salah satu jalur komunikasi di kampus sangat berperan disini, karena berkas-berkas yang selama ini dipakai dirubah menjadi softfile yang lebih hemat penyimpanan dan pengadaan.
Penilaian selanjutnya adalah Excellence, penilaian ini mengacu pada seberapa banyak tulisan ilmiah yang dipublikasikan dan terindex di dunia internet yang merujuk pada webites kampus.
Penilaian selanjutnya adalah Excellence, penilaian ini mengacu pada seberapa banyak tulisan ilmiah yang dipublikasikan dan terindex di dunia internet yang merujuk pada webites kampus.
Jurnalis JH menjelaskan, “Dari 4 penilaian tersebut, terlihat kerjasama semua elemen kampus mulai dari tenaga kependidikan, tenaga didik serta peserta didik untuk bisa ikut bekerjasama memajukan kampus melalui Sistem Informasi kampus”. Pada zaman serba teknologi sekarang, Websites kampus bukanlah sebuah hal yang susah untuk dibuat dan dikelola, selain memudahkan dan menghemat, pemanfaatan Websites sebagai pusat informasi kampus sangat membantu calon mahasiswa menemukan berbagai informasi tentang kampus impiannya.
Sudah saatnya PTS dan PTN di Aceh bangkit memperbaiki peringkat kampusnya untuk bisa sejajar dengan Universitas Syiah Kuala sebagai Jantong Hatee Rakyat Aceh. Peringkat Webometric bukanlah tujuan akhir, banyak sekali penilaian pemeringkatan seperti 4ICU, THES dan ARWU.
Di Indonesia, selain dari Kementrian, juga terdapat pemeringkatan Tesca, dimana Aceh hanya mendaftarkan 1 kampus dalam Tesca, yakni Universitas Malikussaleh Lhokseumawe (UNIMAL).
LINTASNASIONAL.COM
LINTASNASIONAL.COM
Thursday, February 11, 2016
Fakultas Kedokteran Unsyiah Wisuda Warga Asal Korea Selatan
Dekan Fakultas Kedokteraan Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh mengambil sumpah 84 dokter baru dalam Sidang Terbuka Senat Fakultas Kedokteran, Darussalam Banda Aceh pada, Kamis (11/2/2016). Dengan wisuda ini, Fakultas Kedokteraan Unsyiah telah memiliki 2.511 alumni. Dalam wisuda tersebut ikut serta seorang dokter muda peringkat 3 nasional uji kompetensi dokter nasional (ukdi), dr umi salamah siregar, dengan nilai 95.3.
“Untuk pertama kali, Fakultas Kedokteran melantik seorang dokter muda asal Korea Selatan, yakni dr Yoo Su Jie,” ungkap Dekan FK Unsyiah Dr .dr. Mulyadi, SpP
Mulyadi menerangkan, dokter terbaik diraih oleh dr Umi Salamah Siregar dengan nilai Ujian Kompetensi Mahasiswa Pendidikan Profesi Dokter (UKMPPD) 95.3, peringkat ke 3 nasional. Disebutkan, FK Unsyiah terus berbenah diri dalam rangka menghadapi akreditasi oleh Tim Assesor Pusat yang dilaksanakan pada 17-20 Februari 2016.
“Tidak berlebihan menyataka FK Unsyiah sudah layak disandingkan dengan FK di Pulau Jawa,” ungkap dosen senior FK Unsyiah, Dr Andalas
Hingga kini, FK Unsyiah mempunyai 2 prodi strata 1 yakni prodi kedokteran umum dan prodi psikologi, serta 3 prodi strata yakni prodi spesialis, kebidanan dan kandungan, ilmu bedah dan ilmu penyakit dalam yang dikawal oleh 160 dosen berkulifikasi strata 2 dan strata 3. [netralitas]
sumber : ACEHXPress.com
Monday, February 8, 2016
Tipe Mahasiswa Berdasarkan Jurusan Kuliahnya

1. Mahasiswa Sospol
Politik itu kejam, tapi tidak dengan mahasiswa sospol. Mereka manis-manis, gampang bergaul,easy going. Karena mereka paham politik, mereka jadi taktis dan strategis dalam melangkah. Namun, tikung-menikung juga rawan di kalangan mahasiswa sospol.
Jikalau kalian punya pacar mahasiswa sospol, jagalah dia. Kalau-kalau ada mahasiswa sospol yang siap menelikung di tikungan berikutnya. Waspada.
2. Mahasiswa Hukum
Berhati-hatilah kalau punya pacar atau kawan dari jurusan hukum. Sekali kalian melakukan kesalahan, kalian akan diceramahi pasal sekian, KUHP nomer sekian, dan ayat sekian. Tapi, enaknya kalian jadi lebih melek hukum.
Minusnya, gara-gara mereka paham hukum, terkadang mereka malah melanggar hukum. Hehe… Misalnya pas kena tilang polisi, mereka akan betah berdebat lama denga pak polisi soal aturan yang mereka langgar. Tapi biasanya mereka ini orang-orang yang teratur kok, baik dalam segi penghematan keuangan, waktu dan lain-lain.
3. Mahasiswa Sejarah
Mereka adalah orang-orang yang selalu mengingat masa lalu. “Jangan sekali-sekali melupakan sejarah,” begitu semboyan kawan-kawan mahasiswa Sejarah. Jadinya, mereka adalah tipe-tipe mahasiswa yang susah move on.
Tapi karena mereka belajar sejarah, mereka menjadi mahasiswa yang punya karakter dewasa. Mahasiswa sejarah pun asyik untuk diajak piknik ke tempat-tempat sejarah. Lumayan, daripada nyewa guide.
4. Mahasiswa Sastra
Tiada hari tanpa puisi. Begitulah asyiknya berteman atau punya gebetan mahasiswa sastra. Mahasiswa sastra tidak akan kehabisan kata-kata menawan, puisi yang membuat kamu terpesona, dan kisah-kisah asmara yang menentramkan hati.
Pacaran dengan mahasiswa sastra layaknya punya kekasih dari negeri dongeng lah. Tapi namanya negeri dongeng, kalian mesti cepat-cepat bangun.
5. Mahasiswa Teknik
Kawan-kawan mahasiswa teknik adalah mahasiswa-mahasiswa yang kaku namun mantap dalam menatap hidup. Mereka terdidik disiplin, hidupnya amat tertata. Enaknya berkawan sama dengan anak Teknik, kita jadi lebih pasti melangkah. Begini, begini.
Kawan-kawan teknik itu biasanya sudah punya rencana lima tahun kedepan. Kalau kata iklan, kuliah, lulus, langsung kerja. Hidupnya cenderung kaku, kering, dan agak monoton.
6. Mahasiswa MIPA
Mahasiswa MIPA adalah mahasiswa yang taat dan baik hati. Kelakuannya tidak aneh-aneh. Masalahnya mereka biasanya kaku dan cenderung pendiam. Mereka seolah punya dunia sendiri di kepala mereka. Namun, sama dengan mahasiswa teknik, mereka lebih punya tujuan masah depan yang terukur dan terarah.
Tapi kekurangannya, mereka cenderung kaku, kurang romantis, dan kurang dinamis.
7. Mahasiswa Psikologi
Karena mahasiswa psikologi paham dengan seluk beluk perasaan manusia, mereka adalah kawan-kawan yang enak diajak bicara. Kalau kamu ada masalah, dateng saja ke kosan, dan ngobrol. Mereka biasanya pendengar yang asyik dan pengertian.
Kawan-kawan psikologi tahu bagaimana menenangkan hati yang lagi galau nan gundah gulana. Kalau lagi stress, datanglah ke mereka. Atau kalau mereka lagi butuh bahan praktek, bisa jadi malah mereka yang akan datang ke kalian.
8. Mahasiswa Filsafat
Mahasiswa filsafat itu menarik. Pikiran-pikiran mereka nakal, enak diajak ngobrol serius dan santai. Obrolan jadi selalu segar. Susahnya kalau mereka sudah kebablasan seriusnya. Mereka seoalah jadi makhluk dari planet lain yang entah ngomong apa.
Tapi tak apa, pada dasarnya mereka tetap sama dengan kita. Mereka juga makan nasi. Kalau ditinggal pacarpun akan sedih juga.
9. Mahasiswa Ekonomi
Ekonomis, efektif, efisien dan detail soal keuangan. Mengikuti prinsip ekonomi: “Dengan pengorbanan sekecil-kecilnya, mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya.” Bukan berarti pelit lho ya. Cuman irit dan hati-hati. Hehe.
Seperti yang maklum kita ketahui, mahasiswi ekonomi adalah mahasiswi yang modis dengan fashion yang selalu up to date. Fakultas ekonomi adalah tempat lahirnya para mahasiswi berlabel bidadari di kampusnya masing-masing.
10. Mahasiswa Pertanian
Indonesia adalah negara agraris, kita butuh banyak sarjana pertanian. Kalian membutuhkan kawan, atau kalau bisa pacar dari jurusan pertanian. Mereka tipe mahasiswa/mahasiswi yang ulet, tekun, sabar, dan pengertian juga.
Seperti halnya pak tani, mereka sabar menjaga padi sampai masa panen. Mereka ulet dalam belajar dan mencari pacar. Menebar benih cinta untuk dipanen di kemudian hari. Kalau sudah punya pacar, mereka tentunya adalah orang-orang yang sangat setia menjaga cintanya.
11. Mahasiswa Kedokteran
Nah, ini jelas idaman sekaligus incaran mahasiswa seluruh alam. Siapa yang tidak ingin punya pacar seorang calon dokter? Ditambah kalau orangnya baik hati dan suka menabung. Dus, kalau mau sehat lahir batin, carilah pacar mahasiswa/mahasiswi kedokteran. Selain itu, tentu saja fakultas kedokteran adalah tempatnya bidadari-bidari kampus kalian.
Begitulah berdasarkan pengamatan jogjastudent.com Disertai penambahan sedikit di sana sini. Jadi, kalau kalian sedang berjuang dalam lapangan pertemanan atau asmara, ingat-ingatlah tipe mahasiswa berdasarkan jurusan kuliahnya. Seperti yang tertulis di atas.
Sumber : jogjastudent.com
Subscribe to:
Posts
(
Atom
)
