Showing posts with label aceh singkil. Show all posts

Sunday, February 7, 2016

Duo Penulis Hebat Nusantara Asal Singkil

No comments :
Aceh tempo doeloe, banyak melahirkan penulis hebat. Tulisan-tulisan mereka, bukan saja dibaca kalangan intelektual lokal di Nusantara. Tetapi juga, para ilmuan di mancanegara. Tingkatan ilmu pengetahuan yang mereka tulis pun terbilang level tinggi dan bermanfaat dalam kehidupan beragama, sosial kemasyarakatan, kenegaraan dan pemerintahan.
Bahkan, pokok-pokok pikiran penulis Aceh yang dituangkan dalam bentuk buku itu, menjadi bahan rujukan pada negara-negara Timur Tengah dan Asia, termasuk Malaysia, Thailand, dan Brunai Darussalam. Karya mereka, selalu dibaca, dipelajari, dianalisa, dan diaplikasikan dalam kehidupan.
Dari sekian banyak penulis Aceh, tersebutlah di antaranya Syekh Hamzah Fansuri dan Syekh Abdurrauf Al-Singkili yang notabene berasal dari Singkil. Duo penulis ini, tergolong penulis produktif dan top yang pernah dimiliki Indonesia.
Syekh Hamzah Fansuri dan Syekh Abdurrauf al-Singkili, telah menghasilkan karya yang luar biasa mencerahkan, menginspirasi sekaligus menjadi bahan dakwah tak hanya bagi kaum muslimin Indonesia juga mancanegara.
Dalam suatu riwayat dinukilkan, Syekh Hamzah Fansuri, adalah seorang pujangga yang menoreh syair-syair sufi dan sastra relegi yang berbahasa Melayu. Hamzah Fansuri, telah menghasilkan sejumlah karya masterpiece. Seperti, Syair Perahu, Burung Pinggai, Syair Dagang, Syair Sidang Fakir dan sejumlah syair-syair lainnya. Di samping itu, ada juga hasil karyanya dalam bentuk prosa seperti, Asyirabul asyiqin dan Asrarul Arifin Fibayan Suluk wal tauhid. Konon, karya-karya Syekh Hamzah Fansuri yang lain, banyak dibakar di depan masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh.
Begitu hebat dan piawainya Syekh Hamzah Fansuri dalam meracik syair-syairnya, membuat Prof. Dr. Naguib Alatas, Sastrawan dari Malaysia memberi gelar padanya Jalaluddin Rumi-nya Nusantara. Alasan pemberian gelar ini, karena Syekh Hamzah Fansuri tergolong penyair sufi yang tiadataranya di Nusantara. Tidak saja di zamannya malah sampai sekarang.
Kepeloporan Syekh Hamzah Fansuri di bidang Sastra Melayu diakui oleh pakar Belanda Francois Valentijn yang pernah datang ke Aceh sekitar 1345 M atau 744 H (tulisan M. Junus Djamil), dengan bukunya Oud en Niew Oost-Indien (1726). Valentijn mengatakan, Syekh Hamzah Fansuri telah berhasil dan sukses menggambarkan kebesaran Aceh masa lampau melalui syair-syair yang digubahnya (Sri Suyanta, 1998).
Winsteld dalam bukunya “A History of classical Malay Literatur” mengatakan, “ Hamzah Fansuri in sumatera is the earliest and greatest of Acheh’s group of writers on hereticalon”
Di samping penulis dan penyair, Syekh Hamzah Fansuri termasuk pengembang ajaran tasawuf wahdatul wujud (wujudiyyah) yang dicetuskan oleh Ibnu Arabi. Syekh Hamzah Fansuri juga pendakwah ulung. Ajaran-ajaran Islam dikupas dan disampaikannya dengan retorika menarik dan memukau. Jabaran-jabaran isi dakwahnya, diselingi dengan syair-syair.
Dalam berdakwah, Syekh Hamzah Fansuri, sering berpindah-pindah tempat, berkelana hingga ke pelosok Nusantara dan mancanegara. Antara lain, beliau pernah ke Kudus, Banten, Johor, Siam, India, Persia, Irak, Mekkah, dan Madinah. Dengan adanya kiprah Syekh Hamzah Fansuri ini membuat nama beliau dan Aceh sangat harum di kalangan ulama-ulama Nusantara dan mancanegara.
***
Sementara itu, Syekh Abdurrauf al-Singkili yang lahir di Singkil pada tahun 1105 H atau 1615 (versi lain tahun 1620), termasuk penulis sukses. Di samping beliau menjadi Mufti Agung dan Qadhi Malik al-Adil di Kerajaan Aceh Darussalam. Ia juga tampil di pentas intelektual Nusantara. Ia tergolong ulama yang sangat produktif dalam menulis. Karyanya mulai dari ilmu tasawuf hingga fikih. Ada sekitar dua puluh dua karya (kitab). Satu buah kitab tafsir, dua buah kitab hadis, tiga kitab fikih, dan sisanya kitab tasawuf.
Syekh Abdurraf al-Singkil menulis kitabnya dalam bahasa Arab dan Melayu. Kitab tafsirnya yang berjudul Turjuman al Mustafid, diakui sebagai kitab tafsir pertama yang dihasilkan di Indonesia dengan bahasa Melayu.
Mir’at at-Tulab fi Tahsil Ma’rifat Ahkam asy Syar’iyyah lil Malik al Wahhab, merupakan salah satu kitabnya di bidang ilmu fikih. Di dalamnya memuat berbagai persoalan fikih mazhab Syafiie. Kitab ini menjadi panduan para qadhi di Kerajaan Aceh Darussalam.
Di bidang tasawuf, karyanya antara lain Kifayatul al Muhtajin, Daqaiq al Huruf, Bayan Tajalli, Umdat al Muhtajin, Suluk Maslak al Mufridin. Kitab yang terakhir ini merupakan karya terpenting Syekh Abdurrauf. Kitab ini yang terdiri dari tujuh bab. Isinya memuat antara lain tentang zikir, sifat-sifat Allah, dan Rasulnya serta asal-usul mistik.
Karya-karya Syekh Abdurrauf al-Singkili yang sempat dipublikasi murid-muridnya, antara lain. Pertama, Mir’at al-Thullab fi Tasyil Mawa’iz al Badi’rifat al-Ahkam al- Syari’yyah lil Malik al-Wahhab. Karya dibidang fiqh atau hukum Islam yang ditulis atas permintaan Sultanah Safiyatuddin. Dua, Tarjuman al-Mustafid. Merupakan naskah pertama tafsir al-Quran yang lengkap berbahasa Melayu. Tiga, terjemahan hadis Arba’in karya Imam al-Nawawi. Kitab ini ditulis atas permintaan Sultanah Zakiyyatuddin.
Empat, Mawa’iz al-Badi’. Berisi sejumlah nasihat penting dalam pembinaan akhlak. Lima,Tanbih al-Msyi. Kitab ini merupakan naskah tasawuf yang memuat tentang martabat tujuh. Enam, Kifayat al- Muhtajin ila Masyarah al- Muwahhidin al-Qailin bi wahdatil Wujud. Memuat penjelasan tentang konsep Wahadatul Wujud. Daqaiq al-Hurf. Pengajaran tentang tasawuf dan teologi.
Di samping tugasnya sebagai Mufti Agung di kerajaan Aceh Darussalam, Syekh Abdurrauf al-Singkili terus mendarmabaktikan dan menyebarkan ilmu pengetahuan agama kepada masyarakat dengan menjadi seorang da’i dan guru. Beliau juga, sebagai khalifah Tarekat Sufi Syattariah. Sehingga tarekat ini menjadi sangat dominan dalam penghayatan agama dalam Kerajaan Aceh.
Teladani
Syekh Hamzah Fansuri dan Syekh Abdurrauf al-Singkili juga ulama-ulama penulis lain di Aceh, telah lama berpulang keramatullah. Namun, ilmu dan karya-karya yang ditorehkan mereka dalam bentuk buku, masih abadi. Generasi muda sekarang dan akan datang masih bisa membacanya.
Dari titik ini, ada hikmah yang bisa dipetik. Para ulama atau ilmuan Aceh tempo doeloe sangat bersemangat, dalam menimbah ilmu, mengasah ilmunya dan piawai menuangkan ilmu yang mereka miliki itu, dalam kitab-kitab.
Hal ini perlu diteladani oleh generasi muda, calon intelektual. Karena, setinggi apapun ilmu, abadi. Dibaca oleh banyak orang, bahkan melampui batas usia penulisnya.
Apapun yang diketahui, dengar, dan lihat tidak akan bermakna dan bermanfaat untuk pengembangan diri dan masyarakat, bila apa yang ketahui, dengar, dan amati itu tidak pernah “diikat” atau tulis. Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan, “Ikatlah ilmu dengan menulisnya”.
Mengikat atau menulis merupakan aktifitas penting yang tidak boleh disepelekan. Dengan menulis berarti telah mengumpulkan satu kepingan makna. Kepingan makna ini, kita koloborasi dan kombinasikan dengan kepingan makna yang lain, akan membentuk makna baru. Makna baru yang dimaksud, tentunya makna yang menyadarkan dan mencerahkan. Nah, makna yang demikian itulah yang telah disajikan duo ulama dari Singkil, yaitu : Syekh Hamzah Fansuri dan Syekh Abdurrauf As Singkili.[]
sumber : acehtrend.co

Thursday, February 4, 2016

Korban Banjir Bandang Singkohor Direlokasi

No comments :

SINGKIL-Korban banjir bandang di Desa Mukti Jaya, Kecamatan Singkohor, Aceh Singkil, yang rumahnya hancur direlokasi dari pinggir sungai ke wilayah aman banjir. Namun, relokasi itu masih dalam lingkup desa setempat agar warga tetap berdekatan dalam mencari nafkah.
Kesepakatan relokasi tersebut dicapai setelah Bupati Aceh Singkil, Safriadi, melakukan pertemuan dengan korban banjir yang mengungsi di balai Desa Mukti Jaya, Selasa (3/2) petang. Bupati membujuk para korban agar bersedia direlokasi ke tempat aman banjir.
Bujukan itu disambut warga yang trauma setelah banjir bandang meluluhlantakan rumah mereka. “Saya minta semuanya direlokasi,” kata Safriadi, dijawab anggukan kepala warga.
Safriadi saat menemui pengungsi di dampingi Kapolres Aceh Singkil, AKBP M Ridwan, Kepala BPBD Sulaiman, dan Kadis Sosial Jaruddin, Camat Singkohor Zulhelmi, serta pejabat lainnya mengatakan bahwa pihaknya akan membangun rumah untuk tempat relokasi.
Sementara pertapakan rumah dibeli menggunakan dana Desa Mukti Jaya tahun anggaran 2016. “Memang di anggaran tidak ada untuk membangun rumah korban banjir bandang, tapi kami akan berusaha supaya terbangun secepatnya,” ujar Bupati.
Warga yang akan direlokasi sebanyak 12 kepala keluarga, di mana rumah mereka hancur saat banjir bandang menerjang, Minggu (31/1) dini hari. Masing-masing keluarga Sahun, Ponidi, Jamal, Purwanto, Agus Ranto, Maftuhin, Yusuf, Purwanto Marbun, Suri, Kholidi, Sutarman, dan Mutaqin. “Saya juga ingatkan penerima harus membuat pernyataan tidak akan memperjualbelikan rumah bantuan,” tegas Safriadi.
Rumah bantuan untuk relokasi, sebutnya, diupayakan dibangun secepatnya, dan kini tinggal lagi menunggu tersedianya lahan. Sementara bagi korban yang merasa memiliki lahan sendiri di lokasi aman banjir, tidak perlu disediakan pertapakan rumah.
Sumber : Serambi

Wednesday, February 3, 2016

Irwan Djohan: Konflik Antar Umat Beragama di Singkil Jangan Sampai Terulang

No comments :

Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Aceh Teuku Irwan Djohan mengharapkan pemerintah dapat mengelola toleransi antar umat beragama di Aceh Singkil. Pernyataan ini disampaikan Irwan Djohan terkait kerusuhan Singkil Oktober tahun lalu yang dipicu oleh lambannya pembongkaran rumah ibadat yang tak memiliki izin.
Hal ini disampaikan Irwan Djohan dalam rapat koordinasi mengenai kerusuhan Aceh Singkil di Kantor Gubernur Aceh, Rabu, 3 Februari 2016.
“Toleransi harus dilakukan kedua pihak. Apabila ada pelanggaran hukum harus ditentang, kita juga berharap penegak hukum harus tegas,” ujar Irwan Djohan.
Menurut Irwan Djohan, penegakan hukum secara tegas dapat meminimalisir munculnya sikap intoleran.
Irwan Djohan juga meminta pemerintah kabupaten mengantisipasi potensi munculnya kejadian serupa. Katanya, pemerintah daerah harus bekerja maksimal agar kerusuhan antar umat beragama tidak kembali terulang.
“Harus dilakukan pendekatan persuasif dari kedua belah pihak tokoh-tokoh agama. Pemerintah harus memiliki upaya-upaya khusus supaya kedua kelompok tokoh yang berbeda agama ini untuk bertemu, saling bersilaturrahmi, saling tatap muka, sama-sama melakukan kegiatan-kegiatan, baik itu kegiatan sosial, olahraga, dan keagaman, dan dapat menghargai satu sama lain,” sebut Irwan Djohan.
Sumber: Klik kabar

Tuesday, February 2, 2016

Hilang Saat Banjir, Rospita Ditemukan Meninggal Dunia

No comments :

ACEH SINGKIL - Upaya pencarian Rospita membuahkan hasil,  Tim Gabungan (BPBD, TNI, Polri) dibantu warga menemukan Jenazah Rospita Sitompul (65), Selasa (2/2) sekira pukul 14.15 wib. Tak jauh dari lokasi suaminya Hamzah Sihombing ditemukan.

Informasi ditemukanya mayat Rospita disampaikan oleh Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Singkil Sulaiman ST, melalui sambungan selulernya,  ia menyebutkan  mayat Rospita ditemukan tak jauh dari lokasi penemuan mayat Hamzah, Senin (1/2) sore. Tim saat ini sedang mengevakuasi korban.

Mayat Rospita sudah ditemukan, sekarang sedang dievakuasi oleh Tim kita, ditemukan masih di seputaran lokasi suaminya kemarin, di pingiran sungai juga," terang Sulaiman.

Sulaiman mengatakan rencananya sebelum diserahkan kepada keluarga, jenazah Rospita terlebih dahulu  dibawa ke Puskesmas Singkohor untuk dibersihkan.

Kita bawa dulu ke Puskesmas, setelah itu baru kita serahkan kepada keluarganya," terang Sulaiman.

Dengan ditemukannya Jenazah Rospita Sitompul, berarti tiga orang korban banjir bandang yang menghantam Desa Mukti Jaya Kecamatan Singkohor sudah berhasil ditemukan.

Sebelumnya Rusiyem warga Sumber Mukti ditemukan warga  pada hari minggu (31/1) atau dua jam setelah ia diketahui hanyut bersama suaminya di jembatan penghubung Kecamatan Singkohor Kuta Baharu saat hendak berjualan ke pasar mingguan Rimo Kecamatan Gunung Meriah.

Selanjutnya Senin (01/2) sore tim gabungan yang mencari pasangan Suami Istri warga Lae Sipola berhasil menemukan Jenazah Hamzah Sihombing sekitar 1 Km dari rumahnya yang hancur diterjang amukan air bah itu, lokasi itu tak jauh dari lokasi Rospita yang ditemukan.

Sumber : AJNN