Friday, March 11, 2016
Kisah Yang kalau dibaca bulu pada merinding
![]() |
| Kisah Yang kalau dibaca bulu pada merinding |
namun yang kedua ini betapa lebih membuat aku sadar dari setiap akhlak kurang baik yang pernah aku torehkan dalam keluargaku tercinta,terlebih kepada dinda madu ku.
dalam sebuah majlis ta'lim dimana biasa aku kajian dengan suami dan maduku, ada seorang akhwat yang masih gadis namanya lirna.
Aku meminta agar suami tidak memberitahukan perihal ini kepada maduku,aku sendiri yang akan memberit
ahunya,dengan beralasan agar aku dan maduku semakin akrab.
senyum dibibir nya menambah keindahan wajahnya,gemulai cara dia berjalan seperti tiada rasa benci, madu ku ridha dengan pernikahan suami.
tapi tidak, waktu itu, aku benar-benar benci dia,dan benci ini selalu aku tutupi.
Malam itu ketika acara resepsi pernikahan suamiku dengan dek lirnah selesai dan juga para tamu undangan sudah pulang.
" Dinda malam ini adalah malam bahagia Abi dengan madu kita dek lirnah, tegakah kita akan merusak malam yang indah ini bagi mereka, dinda sabar ya... tunggu sampai tiga hari,nanti kita sama-sama kasih tahu Abi, sabar ya,,semoga Allah meridhai segala amal perbuatan semasa hidup bapak . amin ya Rabb.
semoga janin yunda dan dek lirna kelak nanti jadi anak shalih atau shalihah yang patuh kepada kedua orang tuanya dan agamanya ,, Aamiin Ya Rabb."
hari ini adalah hari istimewa kalian bertiga, pasti kalian sangat bahagia,dan lagi pula kalian juga capek,tidak mungkin aku mengabarkan hari duka keluargaku dihari bahagia ini,cukup do'a yang akan menyertai perjalanan ibu ku ke alam keabadian." aku nangis mendengar jawaban dinda maduku yang sungguh tegar itu.
Engkau MAHA tahu ya Rabb.
MASJID Raya Labui (PO TEUMEUREUHOM)
MASJID Raya Labui terletak di Kabupaten Pidie merupakan salah satu masjid tua di Aceh yang menyimpan nilai sejarah. Salah satu peninggalan sejarah adalah mimbar dari kayu berukir berusia ratusan tahun hasil karya pengrajin Cina sekitar tahun 1612 M.
Masjid Raya Labui awalnya bernama Masjid Raya Po Teumeureuhom. Bangunan pertama terbuat dari kayu beratap rumbia. Kemudian dindingnya terbuat dari batu bercampur kapur. Waktu itu Po Teumeureuhom, SULTAN ISKANDAR MUDA (1607-1636) bersama masyarakat membangun masjid tersebut secara bergotong royong. Masyarakat bersedia berdiri sekitar 30 kilometer untuk mengangkut batu secara estafet, dari Kecamatan Muara Tiga ke Labui. Po Teumeureuhom sempat mendatangkan arsitek dari Cina untuk membangun masjid yang kemudian dilestarikan menjadi cagar budaya. Regram from @aldiphotoworks
Saturday, February 27, 2016
Kenang 117 Tahun Gugurnya Teuku Umar, Pemeran Foto Digelar di Gedung PKK Meulaboh
MEULABOH - Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Aceh Barat, selama empat hari mengadakan pameran foto di gedung PKK depan pendopo lama, Suak Indrapuri, Meulaboh.
Pameran foto rangkaian mengenang 117 tahun gugur pahlawan nasional, Teuku Umar menampil foto Teuku Umar dan foto-foto terbaik karya fotografer dibuka Sekda Aceh Barat, Bukhari MM, Sabtu (27/2/2016) .
Sumber : Serambi
Thursday, February 25, 2016
Inilah Orang aceh yang ramah pada setiap tamunya
![]() |
| Inilah Orang aceh yang ramah pada setiap tamunya |
Melihat Aceh janganlah dari sudut pandang negatif. Memang tidak dinafikan ada hukuman cambuk yang cetar membahana setiap saat. Namun itu tak mengurangi keramahan putra-putri Aceh dalam menyambut setiap orang yang berkunjung ke Aceh.
Toh, hukuman cambuk itu memang diminta dan ditetapkan sendiri oleh rakyat Aceh, dan hanya berlaku juga untuk masyarakat Aceh. Biarlah itu bagian dari dinamika kehidupan di Aceh. Mari melihat sisi positif yang terbentang di Aceh. Penduduknya yang ramah, alamnya yang menawan.
Selain itu, sungguh banyak cerita-cerita Aceh yang memesona. Kisah-kisah lama yang hingga kini masih bisa digali dari berbagai sudut daerahnya. Perpaduan penghuni dan daerahnya laksana sebuah menyatu dalam satu karakteristik ke-Aceh-an.
Berbagai pulau yang tersebar mengelilingi Aceh menawarkan berbagai keindahan. Tak hanya di daratan, seperti pantai berpasit putih dengan desiran ombak dan angin yang membelai. Namun juga di kawasan pegunungan banyak terdapat keajaiban dunia. Bahkan hanya Aceh yang memiliki Danau yang didalamnya berenang ikan-ikan depik, itulah dia Danau Lut Tawar.
Jangan lupa di seberang Gunung Geurutee, adalah tempat para bidadari cantik bermata biru berada di sana. Tempat ini adalah Lamno, memiliki sejarah yang luar biasa, dan juga pernah dihuni bangsa Portugis yang kini telah menjadi Aceh. Tengok juga pesona peninggalan kerajaan Hindu di tepi laut Aceh Besar bernama Indrapatra dan Indrapurwa, bahkan ada masjid yang berada di puncak candi bernama Indrapuri. Inilah jejak kejayaan masa lalu yang terkenal dengan Lhee Sagoe.
Tak hanya pandangan mata, namun juga ada santapan yang sedap. Hidangan mie Aceh ada di mana-mana yang tentu lebih nendang rasanya dibanding di tempat lain. Selain itu, bisa menyesap kopi dengan rasa berbeda sambil menonton para koki beratraksi menyaring kopi laksana bar tender sedang bersulap dengan botol-botol minumannya.
Maka ketika berkunjung ke Aceh, janganlah terpengaruh dengan berbagai berita yang seakan-akan Aceh begitu menakutkan. Cerita-cerita politik yang mungkin dianggap tak sama, padahal jika dialihat secara seksama ya sama saja dengan daerah-daerah lain. Namun itu semua dinamika ke-Aceh-an. Keragaman yang memperkaya negeri ini.
Sumber : Atjehpost
BELANDA TAK PERNAH NYAMAN MENGINJAK KAKINYA DI BUMI ACEH
Peristiwa 11 September 1926
Kisah Abuya Muda Waly Berjumpa Dengan Jin Perempuan
![]() |
| Kisah Abuya Muda Waly Berjumpa Dengan Jin Perempuan |
Monday, February 22, 2016
Tiphan makanan khas aceh
Ga ada yang lebih menggoda dari pada melihat makanan kesukaan beserak gini di depan mata.
Dulu kalau mau makan timphan, musti berburu ke warung kopi tertentu dan harus pagi. itu juga kalau ada. Atau nguber seminar dan kueh kotak, atau order. males banget order kalo cuma 5 bijik kan?.
.
Remember cafe ini emang hana lawan lah. Dulu kita pernah bahas sate padang enak di sini. Ingat kan? yg depan Grapari Te*lko*mse*l. Timphan pun ada disini. Timphan asoe kaya dan timphan boh ubi asoe ue. yang asoe ue jangan banyak2 makan ya, kata mamak kami meuglang nanti, atau kremi-an (Semoga ngerti).
.
Yang suka timphan, semoga rejekinya banyak kek timphan beserak ini.
Ayok ceh hashtag #BNACulinary untuk panduan kuliner di Banda Aceh. dan untuk pelaku usaha kuliner, hubungi kami via line jika pengen direview juga usaha kulinernya.
Sumber ig #kotaBandaAceh
Wednesday, February 17, 2016
kisah abu daud beureueh
![]() |
| kisah abu daud beureueh |
Penghuninya adalah seorang pria yang sudah uzur yang kesepian. Dialah Teungku Daud Beureueh, tokoh pergerakan kemerdekaan Aceh yang namanya melegenda itu. Abu Daud, begitu ia biasa disapa, “disimpan” di bangunan itu dari tahun 1978 hingga 1982. Tadinya Daud adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia.
Pernah pula ia menjadi Gubernur Aceh. Tapi ia lalu merasa disepelekan Jakarta, sewaktu daerah kelahirannya itu dilebur dengan Sumatera Utara pada 1953, dalam periode Perdana Menteri Mohammad Natsir. Penggabungan itu secara tak sopan memecat sang Teungku dari jabatannya-sesuatu yang bukan saja amat menghina Daud Beureueh, tapi juga melukai hati kebanyakan orang Aceh.
Dan luka kian menganga ketika rakyat menganggap para petinggi Tentara Nasional Indonesia yang bertugas di Aceh saat itu berhaluan kekiri-kirian. Republik pun kian terasa jauh dari Serambi Mekah.
Bagi Daud Beureueh, segala kekecewaan itu hanya punya satu jalan keluar: Merdeka. Karena itu, setelah tak lagi menjadi gubernur, dari Banda Aceh ia balik ke Kampung Usi, Kecamatan Beureunen, sekitar 15 kilometer dari Sigli, ibu kota Kabupaten Pidie.
Sebentar saja ia telah menghimpun kekuatan, lalu memimpin perlawanan gerilya melawan serdadu Indonesia. Sembilan tahun ia berjuang habis-habisan di hutan, tapi “jalan keluar” itu tak kunjung dapat dijejakinya. Lelah berperang, pada 1962 ia lalu menerima tawaran damai pemerintah Indonesia, dan turun gunung pada tahun itu juga.
Sebagai imbalan, Jakarta berjanji memberlakukan syariat Islam di Aceh. Dari gunung ia kembali ke kampung, dan menetap di sebuah bilik di samping masjid di desanya. Menjadi imam di situ, pengaruh Daud Beureueh kian dalam merasuk ke hati rakyat.
Profesor Nazaruddin Sjamsuddin, pakar politik yang pernah menulis buku Pemberontakan Kaum Republik: Kasus Darul Islam, punya cerita bagaimana rakyat amat menghormati figur karismatis itu.
Hampir tiap hari Nazaruddin melihat pemandangan itu. Ada saja warga yang datang membawa makanan dan buah-buahan ke rumah itu. Tapi berbagai pendekatan dan pemberian dari Jakarta selalu ditampiknya.
Kesepakatan damai tak kunjung melumerkan kekerasan hatinya terhadap pemerintah pusat. Abu Daud kecewa. Janji tentang syariat Islam ternyata tak pernah dipenuhi. Iming-iming itu baru terealisasi 43 tahun kemudian, melalui Undang-Undang Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), yang disahkan pada 2002 silam, 16 tahun setelah Daud Beureueh wafat.
Kekecewaan itulah yang lalu diutarakannya berulang-ulang dalam setiap ceramahnya di masjid-masjid di Aceh maupun Medan.
Ahmad Farhan Hamid, putra Abdul Hamid, teman seperjuangan Daud Beureueh, punya kisah menarik soal ini. Tahun 1976, saat menjadi mahasiswa di Fakultas MIPA Universitas Sumatera Utara, Farhan pernah mengundang Daud Beureueh berceramah di kampus itu. Semula cuma diminta memberi khotbah agama, eh, Abu Daud malah masuk jauh ke wilayah politik.
“Dia juga memaki-maki pemerintah,” kata Farhan.
Memang, dalam setiap ceramahnya, Abu Daud tak henti mengkritik kebijakan pemerintah. Ia merasa pembangunan di Aceh tak pernah bisa melayani kebutuhan masyarakat. Ia menjadi saksi betapa di tanah mereka sendiri, orang Aceh cuma jadi penonton ketika Orde Baru membangun berbagai industri besar di sana.
Pada tahun 1970-an, misalnya, di Aceh Utara didirikan pabrik gas Arun. Tapi mesin industri yang menderu cepat itu hanya membuat rakyat Aceh kian tertinggal. Tak pelak, jurang itu melahirkan kembali perlawanan baru terhadap Jakarta di bawah pimpinan Teungku Muhammad Hasan Tiro.
Hasan Tiro, paham betul bahwa restu Daud Beureueh amatlah penting untuk menopang gerakannya. Itu sebabnya, sekembali dari Amerika Serikat, dua kali ia bertamu ke rumah Abu Daud untuk meminta sokongan.
Menurut Nazaruddin Sjamsuddin, sebagaimana pernah dituturkan langsung Daud Beureueh kepadanya, Hasan Tiro menemui sang Teungku pada akhir 1975, di rumahnya di Beureunuen, Aceh.
Dalam pertemuan itu Hasan Tiro penuh semangat menjelaskan isi dan strategi perjuangannya. Tapi Daud tak peduli dengan segala siasat itu, Ia malah bertanya.
“Apa dasarmu membentuk Aceh merdeka?” Hasan tersentak mendengar pertanyaan itu. Belum lagi dijawab, Daud Beureueh sudah menukas sembari menatap tajam.
“Kalau dasarnya Islam, silakan. Saya mendukung.”
Setelah terdiam sejenak, Hasan Tiro menjawab, “Untuk kesejahteraan masyarakat Aceh. Selama bergabung dengan Republik, Aceh tak mungkin makmur. Jadi, harus berdiri sendiri.”
Bukannya memuji, Daud Beureueh malah geleng-geleng kepala dan menarik napas panjang.
“Apa dasarmu sebenarnya?” ia kembali bertanya penuh selidik. Kembali, Hasan Tiro tercenung. “Aceh, kata Daud, butuh menjadi Islam, bukan merdeka.”
“Apa nanti pertanggungjawaban kita kepada Allah kalau dasarnya bukan Islam,” kata Nazaruddin mengutip Daud.
Hasan Tiro tak patah arang. Ia terus meyakinkan Daud Beureueh bahwa orang Aceh memang memerlukan kemerdekaan. Setelah sejam mereka bicara, akhirnya Daud mengangguk memberi restu. Hasan Tiro langsung bergerak cepat.
Kemerdekaan Aceh diproklamasikan pada 4 Desember 1976. Jakarta berang dan segera mengirim pasukan. Dalam sekejap pasukan Hasan Tiro terdesak, lalu bergerilya di gunung dan hutan. Namun para petinggi Republik paham betul, roh perlawanan Aceh yang sesungguhnya ada dalam diri Daud Beureueh.
Keputusan pun diambil. Legenda hidup itu harus diceraikan dari gemuruh pemberontakan Hasan Tiro. Sebuah tim khusus lalu dikirim ke Aceh untuk membawa Daud Beureueh ke Jakarta, pada 1 Mei 1978.
Dikisahkan Nur Ibrahimy, menantu Daud Beureueh, tim Sjafrie meminta kesediaan sang Teungku untuk ikut bersama mereka ke Jakarta.
“Kami diperintahkan membawa Abu Daud ke Jakarta untuk menjadi saksi di Pengadilan Negeri Surabaya dalam perkara Haji Ismail yang dituding terlibat aksi Komando Jihad,” kata salah seorang anggota rombongan itu.
Peristiwa ini disaksikan langsung Teungku Nya’Aisah, istri ketiga Daud Beureueh. Karena sudah tua, sakit-sakitan pula, Daud Beureueh berkeberatan dibawa ke ibu kota Republik.
Dengan santun ia menjawab, “Maaf, bukannya tidak bersedia, saya ini sudah uzur. Saya mau bersaksi di sini saja.” Tapi tim Sjafrie berkeras.
Masih menurut Nur Ibrahimy, mereka lalu memegangi kaki dan tangan Daud Beureueh. Salah satunya sigap menyuntikkan obat bius. Tapi, karena sang Teungku keras memberontak, jarum suntik pun patah.
“Darah berceceran dan membasahi baju Abu Daud,” kata Nur.
Menurut Nur Ibrahimy, alasan menjadi saksi dalam perkara Komando Jihad itu cuma dalih untuk membawa paksa Abu Daud keluar dari tanah Aceh. Sjafrie Sjamsoeddin mengakui memang dialah yang memimpin tim untuk “mengambil” Daud Beureueh.
“Ya, kami yang menjemput beliau,” ujarnya. Tapi, menurut versi Sjafrie, ketika itu Abu Daud tak sempat melawan, juga tak ada kekerasan berarti, karena obat bius yang disuntikkan cepat bekerja.
Jenderal bekas Panglima Kodam Jaya itu mengungkapkan penjemputan pemimpin karismatik Aceh ini memang dilandasi kekhawatiran bahwa Daud Beureueh akan kembali naik gunung menyokong Gerakan Aceh Merdeka (GAM), yang sedang sengit-sengitnya digelorakan Hasan Tiro.
Saat itu perlawanan gerilya Hasan Tiro memang telah merasuki sebagian rakyat Aceh. Dari hutan, mereka gencar menyerang sejumlah fasilitas pemerintah dan perusahaan asing yang beroperasi di Aceh.
Pada awal 1978, misalnya, pasukan Tiro bahkan berhasil menerobos masuk ke pabrik LNG Arun di Aceh Utara. Serangan itu menewaskan seorang pekerja warga Amerika. Namun, di mata Nur Ibrahimy, ketakutan pemerintah pusat itu kelewat berlebihan.
Menurut dia, Abu Daud tak pernah sepenuhnya menyetujui gerakan kemerdekaan versi Hasan Tiro itu. Sebabnya, “GAM ini bersifat sekuler dan meski kurang Islami.”
Di Jakarta, mulanya Daud Beureueh tinggal di rumah menantunya, Muhammadiyah Haji, di Jalan Tomang, Jakarta Barat. Tapi tak berapa lama kemudian pemerintah lalu mengontrak sebuah rumah, persis di samping kediaman sang menantu. Bangunannya besar, megah, tapi sepi. Di situlah kemudian Abu Daud harus menetap seorang diri. Keperluan ia makan diurus anak dan menantunya.
“Tiap hari saya dan istri bawa makanan ke rumahnya,” kata Nur mengenang. Opor ayam dan ilieh alias belut goreng ala Aceh adalah makanan kesukaan Teungku Daud.
Untunglah, masih ada yang menghibur hatinya. Daud Beureueh selalu berseri-seri saat orang Aceh di Jakarta datang mengunjunginya. Atau juga kala ia berceramah di masjid dan menghadiri acara diskusi, meski dalam lingkup yang sangat terbatas. Di Jakarta, ruang gerak Daud Beureueh jelas tak lagi leluasa. Aparat keamanan terus mengintainya. Pemerintah cemas, siapa tahu di antara tetamu itu menyusup seorang gerilyawan Aceh.
Menurut Nur Ibrahimy, aparat intel, baik dari kepolisian maupun militer, saban hari mengawasi rumah kontrakan di Tomang itu, juga ketat menguntit ke mana pun Daud Beureueh melangkah. Karena itulah, Abu Daud sendiri menyebut kediaman megahnya di Tomang itu sebagai “sangkar emas pemerintah Indonesia”.
Dikungkung begitu, lama-kelamaan tergerogoti juga kesehatan Daud Beureueh. Beberapa kali ia jatuh sakit, dirongrong diabetes dan paru-paru basah. Berkali-kali ia minta pulang ke Aceh. Tapi baru pada 1982, saat kondisi kesehatannya terus merosot, pemerintah mengabulkannya.
Di Aceh, ia kembali menempati bilik di samping masjid di kampung kelahirannya. Tapi sakitnya kian parah. Tahun 1985, ia terjatuh dari ranjang. Engsel pinggulnya cedera berat, dan ia tak sanggup lagi berdiri. Walau begitu, semangatnya tak pernah pudar.
Dalam keadaan selalu terbaring di tempat tidur ia tetap menerima tamu dari berbagai kalangan: pejabat pemerintah, mahasiswa yang sedang menyusun skripsi, atau petani yang sekadar ingin mencium tangannya.
Sikap kritisnya terhadap pemerintah pusat pun tak lumer. Berkali-kali dia mengirim surat ke Presiden Soeharto, mengingatkan kian merebaknya kemerosotan moral di Serambi Mekah. Ia baru menyerah ketika ajal datang menjemput.
Rabu, 10 Juni 1987, Abu Daud menutup mata, dalam usia 89 tahun. Dari Jakarta, Presiden Soeharto mengirim karangan bunga dan kawat khusus duka cita. Jasad Teungku Daud Beureueh, bersama segenap impiannya tentang masa depan Aceh, dimakamkan di bawah pohon mangga di pekarangan Masjid Baitul A’la lil Mujahidin di Beureunuen, sebagaimana yang ia minta. (atjehcyber/tempo 2003/lasdipo)
Tuesday, February 9, 2016
Tari Likok Pulo
#fotoaceh by @icandmans
・・・
Tari Likok Pulo adalah sebuah tarian tradisional yang berasal dariAceh, Indonesia. "Likok" berarti gerak tari, sementara "Pulo" berarti pulau. Pulo di sini merujuk pada sebuah pulau kecil di ujung utara Pulau Sumatera yang juga disebut Pulau Breuh, atau Pulau Beras.
Tarian ini lahir sekitar tahun 1849, diciptakan oleh seorang ulama tua berasal dari Arab yang hanyut di laut dan terdampar di Pulo Aceh. Tarian dimainkan dengan posisi duduk bersimpuh, berbanjar, atau bahu membahu.
Seorang pemain utama yang disebut cèh berada di tengah-tengah pemain. Dua orang penabuh rapa'i berada di belakang atau sisi kiri dan kanan pemain. Sedangkan gerak tari hanya memfungsikan anggota tubuh bagian atas, badan,tangan, dan kepala.
#amazingaceh
Wednesday, February 3, 2016
Teuku Nana, Cut Nyak Dhien, dan Pang laot.
foto ini setelah setelah penangkapannya . Cut Nyak Dhien (1848-1908) adalah istri Teuku Umar ( 1840-1899 ) . Dia melanjutkan setelah kematiannya meneruskan perjuangan melawan Belanda di Aceh , ditangkap pada tahun 1905 dan meninggal di pengasingan di Sumedang.
Part, 1.
SUMEDANG - Cut Nyak Dien adalah salah satu pahlawan Indonesia yang diasingkan oleh tentara Belanda. Cut Nyak Dien dibuang ke Sumedang karena dianggap berpotensi membuat ancaman.
Tanpa fisik yang sempurna, Cut Nyak Dien akhirnya diasuh dan dirawat oleh keluarga K.H Sanusi yang merupakan ulama Masjid Agung Sumedang. Dia pun tinggal di rumah K.H Sanusi yang berada tidak jauh dari makamnya.
Rumah berukuran 12 x 14 meter itu tampak sepi dari pengunjung. Rumah tersebut merupakan saksi sejarah kisah pahlawan wanita Indonesia, Cut Nyak Dien saat melewati hari – harinya sebagai orang yang diasingkan oleh tentara Belanda.
Di rumah tersebut, ada sebuah ruangan berukuran 3 x 5 meter yang menjadi kamar Cut Nyak Dien. Di kamar tersebut terdapat ranjang berukuran 2 x 2 meter. Selain itu, ada juga mesin jahit di dalam rumah tersebut. Menurut pengakuan beberapa orang yang berada di sana, konon mesin jahit tersebut suka berjalan sendiri. “Katanya sih mesin jahitnya suka berjalan atau goyang – goyang sendiri, seperti ada orang yang sedang menjahit,” kata Dwi salah seorang yang pernah mengunjungi rumah K.H Sanusi yang juga merupakan rumah tempat Cut Nyak Dien dirawat.
Rumah itu berbentuk seperti rumah panggung. Di dalamnya sudah tidak banyak barang hanya benda – benda peninggalan yang dipakai oleh Cut Nyak Dien. Menurut Dadang, anak cucu keturunan K.H Sanusi benda – benda tersebut sengaja dipindahkan.
“Benda – benda yang lainnya masih digunakan oleh keluarga sehingga ada yang dipindahkan. Kalau yang ada di rumah hanya benda yang digunakan oleh Cut Nyak Dien saja,” kata Dadang.







